Bandung, Januari 2009
Awal tahun... hem, rasanya tak ada yang istimewa yang ku lalui di tahun kemarin, pun di tahun ini. Dimana semua orang merencanakan ataupun memproklamirkan resolusi dirinya di tahun ini, tidak demikian dengan diriku. Semua berjalan seperti biasanya, lambat, bahkan sangat lamban. Aku tak mampu berkejaran dengan waktu yang semakin meninggalkanku dalam lubang keterpurukan diri yang ku gali sendiri. Aku tetap tak mau keluar dari lubang yang semakin dalam ini.
Lelah rasanya menunggu sepasang tangan yang terulur untuk menolongku keluar dari lubang ini. Semakin aku berharap, rasanya semakin sia-sia asa yang ku pupuk setiap harinya. Semakin tak kunjung tiba sebuah keajaiban itu. Dan aku semakin merasa lelah, bahkan hanya untuk menggerakkan kakiku agar merangkak naik melewati dasar lubang ini. Rasanya entah sudah berapa masa yang ku lewati untuk tetap berdiam di dalam lubang duka dan dilema hasil ciptaanku sendiri. Lubang yang kuharapkan dapat lebih mengenali diriku sendiri yang berteman dengan semua duka ini. Namun aku jadi semakin larut menikmati ketidakberdayaan ini. Aku semakin dimanjakan oleh rasa sakit dan penat ini, hingga tak adalagi tenaga yang tersisa untuk melawan semua kemalasan dan kepenatan ini. Mencoba pasrah, tapi rasanya lebih tepat kalau disebut menyerah sebelum berperang mati-matian.
Tahun terus berganti, musim pun sudah beberapa kali ku lewati, namun aku masih tetap terpaku di sini. Tak ada sedikitpun rencana apalagi deklarasi resolusi untuk memperbaiki diri. semua kuserahkan pada waktu, angin, dan matahari, yang mungkin masih berkenan menemani ketidak pastianku ini. Orang-orang pun semakin berlari, tapi aku hanya tetap menatapi jejak-jejak langkah yang mereka tinggalkan tadi. Menciumi harum semangat yang berkobar-kobar, tanpa sedikitpun menghinggapi rongga paru-paru agar sedikit mempengaruhi kecepatan langkah kakiku. Tetap hanya terpaku.
Lelah, sekalilagi benar-benar lelah. Menanti diri ini berubah dan benar-benar terobati. Menanti sepasang tangan yang akan terulur mengangkatku pergi dari lubang "PECUNDANG" ini. Aku masih menanti, mungkin untuk waktu yang akan lama, sampai aku sendiri benar-benar dapat menyadari kalau "HIDUP HANYA HARI INI, BUKAN BESOK ATAU NANTI".
"UNTUK SEBUAH ASA TANPA TITIK NADIR dalam JIWA HAMPA PENUH DOSA"
Monday, January 12, 2009
Monday, December 22, 2008
CURHAT 2 ..

Bagaimana kau akan memulai cintaMu dengan Kebohongan,
Bukan membohongi dia, tetapi membohongi diriMu sendiri
Kau akan merasa benar-benar berkorban untuk dia bahagia,
Tapi sesungguhnya kau hanya ingin agar kau mendapatkannya
Bukan benar-benar mencintai Dia,
karena sesungguhnya kau tak pernah benar-benar mencintai diriMu sendiri...
CURHAT...
Benci dan Sayang itu suatu pilihan
Cinta dan Ketulusan itu sebuah perasaan
Mungkin akan lebih mudah merasa tulus
ketika kita tahu orang itu mencintai kita,
Tetapi sangat sulit memilih menyayangi
kepada orang yang membenci kita
Sayang bukan sesuatu yang harus diartikan cinta, akan tetapi
Cinta akan selalu menjadikan kita Tulus
Namun, "sayang" akan Benci,
tak akan pernah membuat kita tulus untuk mencintai
Cinta dan Ketulusan itu sebuah perasaan
Mungkin akan lebih mudah merasa tulus
ketika kita tahu orang itu mencintai kita,
Tetapi sangat sulit memilih menyayangi
kepada orang yang membenci kita
Sayang bukan sesuatu yang harus diartikan cinta, akan tetapi
Cinta akan selalu menjadikan kita Tulus
Namun, "sayang" akan Benci,
tak akan pernah membuat kita tulus untuk mencintai
Friday, November 21, 2008
Bandung, 21 November 2008
Malam menjelang subuh, dini hari. Mata ku masih terjaga menatapi layar computer yang sedari tadi menampilkan barisan-barisan kata. Sedang tanganku dengan ‘ligatnya’ menekan huruf demi huruf di keyboard komputerku. Rasanya lelah dan keram otot-otot pinggul serta pundakku, tak mengurangi semangatku untuk mengukir kata demi kata di kanvas putih yang ada di layar monitorku.
Kenangan demi kenangan masa laluku, serasa berkejar-kejaran di otakku, berebut untuk segera di tumpahkan dalam kanvas itu. Namun semakin aku ingin melimpahkan semuanya, semakin bertambah banyak kenangan itu hingga membuat urat ‘batok’ku terasa bak ditarik keluar. Akhirnya ku tahan satu oersatu kenangan itu, agar dapat perlahan ku ketik dan ku rangkai dengan benar.
(Dumai, 2003)
-Bulai Mei-
Bulan ini adalah bulan yang amat berat bagiku, juga bagi keluargaku. Bagaimana tidak, pada bulan itu orang yang kusayangi dan guru bagiku harus PERGI menghadap penciptanya. Papa, begitulah aku memanggil beliau. Setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya hampir (lebih kurang) 6 bulan, papa akhirnya harus menyerah. Kanker Paru-paru stadium 4, memang bukan tandingannya. Sebuah penyakit yang amat ‘tangguh’ untuk terus bertengger menggerogoti satu demi satu bagian tubuh si ‘empunya’.
Ditambah lagi dengan keterlambatan papa mengetahui penyakit yang dideritanya. Kalau banyak yang mengatakan kalau Dokter Indonesia tidak dapat diandalkan untuk mengetahui gejala penyakit yang didera pasien. Untuk kasus papa dapat dengan pasti ku katakan pernyataan itu adalah BENAR. Bagaimana tidak, setelah memeriksakan sakit pinggangnya (itu awal gejala yang dirasakan papa) kepada Dokter di rumah sakit swasta TERKENAL di Jakarta, lalu kemudian kepada seorang yang bergelar PROFESOR, papa hanya mengetahui kalau dia HANYA menderita PENGAPURAN dan …. pada pinggulnya. Sehingga hal itu menyebabkan papa tak dapat menggerakkan kakinya dengan baik.
Namun, dengan banyaknya resep obat yang KATANYA dapat mengurangi penyakit tersebut, hasil yang didapat hanya ZERO alias NOL. Malah terlihat semakin parah. Hingga akhirnya papa DIPAKSA memeriksakan diri ke NEGERI TETANGGA, MALAKA. Dan hasilnya benar-benar sangat SPEKTAKULER dan MENGEJUTKAN, papa sudah mengidap KANKER PARU-PARU tingkat 4. Penyakit itu diketahui setelah melakukan check Up seluruh badan, TIDAK HANYA PADA BAGIAN YANG SAKIT SAJA. Dengan kenyataan itu pihak RS tak dapat berbuat banyak, selain HANYA memberikan obat untuk MENGURANGI kesakitan yang akan dirasakan papa. HANYA MENGURANGI bukan MENYEMBUHKAN apalagi MENGHILANGKAN.
Benar-benar kenyataan yang menyakitkan, sekaligus meninggalkan PENYESALAN yang tak berujung. Muncul kata-kata SEANDAINYA, KALAUSAJA yang berseliweran di kepala kami, keluarga papa. Ya.. Seandainya kami lebih cepat memeriksakan papa ke RS NEGERI TETANGGA itu, pastinya penyakit papa dapat ditanggulangi dengan baik. Ya.. kalausaja DOKTER-DOKTER di NEGERI ini bisa sedeikit lebih serius menangani pasien mereka, walau hanya datang kepada mereka dengan keluhan SAKIT PINGGANG.
Kadang pertanyaan muncul. Mengapa kita HARUS LEBIH PERCAYA dengan pengobatan NEGARA LAIN dari pada di NEGERI sendiri. Mengapa kita harus membayar lebih MAHAL BANGSA LAIN untuk mendapatkan sebuah KENYATAAN. Apakah bangsa lain lebih peduli dari pada bangsa kita sendiri???
Entahlah… yang jelas apa yang aku alami hanya sepenggal cerita DUKA dan TRAGIS dari banyak cerita-cerita serupa lainnya. Cerita yang hanya dijadikan cerita tanpa satupun PELAJARAN yang dapat dipetik dari sana. Tapi, semoga saja cerita sedih ini suatu saat akan menjadi cerita bahagia, karena tak akan lagi ada kejadian serupa nantinya. I HOPE !!!
(Dumai,2005)
-Bulan Juni-
Seorang gadis kecil usia 13 tahun sedang terbaring lemah di sebuah Rumah Sakit Umum di Dumai. Badannya seolah tak berdaya untuk digerakkan, sekujur tubuhnya serasa akan rapuh dan sakit itu terus menerus menyerang sendi-sendi raganya.
Ia sudah di sana selama 1 minggu. Sudah banyak obat yang diberikan kepadanya. Namun suhu tubuhnya seolah tetap membakarnya. Panas yang mencapai 40 derajat Celcius membuatnya semakin tak berdaya. Benar-benar menguji kesabarannya dalam menerima komunikasi tuhan yang paling dekat padanya. Mencoba terus ikhlas sampai ia tak merasakan kesakitannya lagi.
Ketika memasuki hari ke-8, si gadis kecil itu sudah tak sanggup lagi menahan ‘penderitaannya’ itu. Iapun akhirnya mengalah, dengan sebuah senyuman terdamai yang pernah dia berikan. Senyuman untuk kedua orang tuanya, kakak perempuannya, serta adik kecilnya. Iapun berkata, kalau dia benar-benar tak sanggup lagi melawan kesakitan yang dirasakannya. Dia ingin berhenti berjuang hanya sampai saat itu saja.
Dan akhirnya ketika orang-orang di sekitarnya baru saja akan berjuang menyelamatkannya, mempertahankan agar ia tetap berada di sisi mereka. Si gadis kecil pun pergi untuk selama-lamanya, pergi melayang menuju alam abadi bersama bidadari-bidadari yang kan menjaganya.
Gadis itu pergi, setelah diketahui apa yang tengah dideritanya. Gadis itu pergi ketika dia baru saja akan ditolong. 8 hari yang panjang, 8 hari yang sangat melelahkan raganya. 8 hari yang cukup lama untuk mengetahui bahwa ia sebenarnya mengidap DEMAM BERDARAH. 8 hari, dimana dia hanya diberi obat penurun panas dan tak satupun tindakan pencegahan atau penanggulangan akan penyakitnya. 8 hari dimana dia hanya dianggap mengidap demam biasa, lalu kemudian berganti TIPUS.
Dan Gadis kecil itu pergi untuk selama-lamanya, ketika dia akan di pindahkan ke Rumah sakit yang bersedia menanganinya. Rumah Sakit yang harus ditempuhnya selama 6 jam perjalanan darat. Benar-benar miris, hanya karena terlambat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Gadis kecil itu pergi... sekali lagi bukan karena terlambat untuk di bawa ke Rumah Sakit, namun terlambat untuk segera dirujuk ke Rumah Sakit yang memang mampu dan sanggup MENOLONGnya...
Malam menjelang subuh, dini hari. Mata ku masih terjaga menatapi layar computer yang sedari tadi menampilkan barisan-barisan kata. Sedang tanganku dengan ‘ligatnya’ menekan huruf demi huruf di keyboard komputerku. Rasanya lelah dan keram otot-otot pinggul serta pundakku, tak mengurangi semangatku untuk mengukir kata demi kata di kanvas putih yang ada di layar monitorku.
Kenangan demi kenangan masa laluku, serasa berkejar-kejaran di otakku, berebut untuk segera di tumpahkan dalam kanvas itu. Namun semakin aku ingin melimpahkan semuanya, semakin bertambah banyak kenangan itu hingga membuat urat ‘batok’ku terasa bak ditarik keluar. Akhirnya ku tahan satu oersatu kenangan itu, agar dapat perlahan ku ketik dan ku rangkai dengan benar.
(Dumai, 2003)
-Bulai Mei-
Bulan ini adalah bulan yang amat berat bagiku, juga bagi keluargaku. Bagaimana tidak, pada bulan itu orang yang kusayangi dan guru bagiku harus PERGI menghadap penciptanya. Papa, begitulah aku memanggil beliau. Setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya hampir (lebih kurang) 6 bulan, papa akhirnya harus menyerah. Kanker Paru-paru stadium 4, memang bukan tandingannya. Sebuah penyakit yang amat ‘tangguh’ untuk terus bertengger menggerogoti satu demi satu bagian tubuh si ‘empunya’.
Ditambah lagi dengan keterlambatan papa mengetahui penyakit yang dideritanya. Kalau banyak yang mengatakan kalau Dokter Indonesia tidak dapat diandalkan untuk mengetahui gejala penyakit yang didera pasien. Untuk kasus papa dapat dengan pasti ku katakan pernyataan itu adalah BENAR. Bagaimana tidak, setelah memeriksakan sakit pinggangnya (itu awal gejala yang dirasakan papa) kepada Dokter di rumah sakit swasta TERKENAL di Jakarta, lalu kemudian kepada seorang yang bergelar PROFESOR, papa hanya mengetahui kalau dia HANYA menderita PENGAPURAN dan …. pada pinggulnya. Sehingga hal itu menyebabkan papa tak dapat menggerakkan kakinya dengan baik.
Namun, dengan banyaknya resep obat yang KATANYA dapat mengurangi penyakit tersebut, hasil yang didapat hanya ZERO alias NOL. Malah terlihat semakin parah. Hingga akhirnya papa DIPAKSA memeriksakan diri ke NEGERI TETANGGA, MALAKA. Dan hasilnya benar-benar sangat SPEKTAKULER dan MENGEJUTKAN, papa sudah mengidap KANKER PARU-PARU tingkat 4. Penyakit itu diketahui setelah melakukan check Up seluruh badan, TIDAK HANYA PADA BAGIAN YANG SAKIT SAJA. Dengan kenyataan itu pihak RS tak dapat berbuat banyak, selain HANYA memberikan obat untuk MENGURANGI kesakitan yang akan dirasakan papa. HANYA MENGURANGI bukan MENYEMBUHKAN apalagi MENGHILANGKAN.
Benar-benar kenyataan yang menyakitkan, sekaligus meninggalkan PENYESALAN yang tak berujung. Muncul kata-kata SEANDAINYA, KALAUSAJA yang berseliweran di kepala kami, keluarga papa. Ya.. Seandainya kami lebih cepat memeriksakan papa ke RS NEGERI TETANGGA itu, pastinya penyakit papa dapat ditanggulangi dengan baik. Ya.. kalausaja DOKTER-DOKTER di NEGERI ini bisa sedeikit lebih serius menangani pasien mereka, walau hanya datang kepada mereka dengan keluhan SAKIT PINGGANG.
Kadang pertanyaan muncul. Mengapa kita HARUS LEBIH PERCAYA dengan pengobatan NEGARA LAIN dari pada di NEGERI sendiri. Mengapa kita harus membayar lebih MAHAL BANGSA LAIN untuk mendapatkan sebuah KENYATAAN. Apakah bangsa lain lebih peduli dari pada bangsa kita sendiri???
Entahlah… yang jelas apa yang aku alami hanya sepenggal cerita DUKA dan TRAGIS dari banyak cerita-cerita serupa lainnya. Cerita yang hanya dijadikan cerita tanpa satupun PELAJARAN yang dapat dipetik dari sana. Tapi, semoga saja cerita sedih ini suatu saat akan menjadi cerita bahagia, karena tak akan lagi ada kejadian serupa nantinya. I HOPE !!!
(Dumai,2005)
-Bulan Juni-
Seorang gadis kecil usia 13 tahun sedang terbaring lemah di sebuah Rumah Sakit Umum di Dumai. Badannya seolah tak berdaya untuk digerakkan, sekujur tubuhnya serasa akan rapuh dan sakit itu terus menerus menyerang sendi-sendi raganya.
Ia sudah di sana selama 1 minggu. Sudah banyak obat yang diberikan kepadanya. Namun suhu tubuhnya seolah tetap membakarnya. Panas yang mencapai 40 derajat Celcius membuatnya semakin tak berdaya. Benar-benar menguji kesabarannya dalam menerima komunikasi tuhan yang paling dekat padanya. Mencoba terus ikhlas sampai ia tak merasakan kesakitannya lagi.
Ketika memasuki hari ke-8, si gadis kecil itu sudah tak sanggup lagi menahan ‘penderitaannya’ itu. Iapun akhirnya mengalah, dengan sebuah senyuman terdamai yang pernah dia berikan. Senyuman untuk kedua orang tuanya, kakak perempuannya, serta adik kecilnya. Iapun berkata, kalau dia benar-benar tak sanggup lagi melawan kesakitan yang dirasakannya. Dia ingin berhenti berjuang hanya sampai saat itu saja.
Dan akhirnya ketika orang-orang di sekitarnya baru saja akan berjuang menyelamatkannya, mempertahankan agar ia tetap berada di sisi mereka. Si gadis kecil pun pergi untuk selama-lamanya, pergi melayang menuju alam abadi bersama bidadari-bidadari yang kan menjaganya.
Gadis itu pergi, setelah diketahui apa yang tengah dideritanya. Gadis itu pergi ketika dia baru saja akan ditolong. 8 hari yang panjang, 8 hari yang sangat melelahkan raganya. 8 hari yang cukup lama untuk mengetahui bahwa ia sebenarnya mengidap DEMAM BERDARAH. 8 hari, dimana dia hanya diberi obat penurun panas dan tak satupun tindakan pencegahan atau penanggulangan akan penyakitnya. 8 hari dimana dia hanya dianggap mengidap demam biasa, lalu kemudian berganti TIPUS.
Dan Gadis kecil itu pergi untuk selama-lamanya, ketika dia akan di pindahkan ke Rumah sakit yang bersedia menanganinya. Rumah Sakit yang harus ditempuhnya selama 6 jam perjalanan darat. Benar-benar miris, hanya karena terlambat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Gadis kecil itu pergi... sekali lagi bukan karena terlambat untuk di bawa ke Rumah Sakit, namun terlambat untuk segera dirujuk ke Rumah Sakit yang memang mampu dan sanggup MENOLONGnya...
Thursday, November 20, 2008
Bandung, November 2008
Aku meminta hati ini tetap mencintaiMu
namun aku salah... Ternyata cintaku tak sebesar Cintanya,
padaMu...
Wanita itu,
dia mungkin lebih menderita dari pada aku...
Jiwanya pastilah lebih terluka daripada jiwaku
dan rindunya,
mungkin lebih mendalam daripada rinduku padaMu
Lalu,
apa memang pantas aku meminta hatiMu
sedangkan untuk memperjuangkan diriMu saja
aku tak sanggup melakukannya...
Tak seperti wanita itu,
yang sedaya upayanya mempertahankan keberadaanMu
di sisinya...
Aku mungkin tak lebih pantas mendapatkan cinta itu
cinta yang betul-betul tulus tuk saling memiliki
Aku mungkin tak lebih layak mendapat tempat di sisiMu
di mana kebahagiaan abadi kan selalu mengharumi nurani...
Kini aku sadar akan semua itu,
dan hanya satu yang aku harapkan untuk terakhir kalinya
yaitu, semoga keikhlasan ini dapat ku persembahkan
untuk kebahagiaanMu dan wanita itu...
Sekarang, Nanti, dan untuk selamanya
Walau ini terasa berat untukku
aku akan terus mencoba dan berusaha
karena, hanya dengan inilah
aku dapat merasakan kebahagiaanMu...
(for someone in Heaven with His Angel)
namun aku salah... Ternyata cintaku tak sebesar Cintanya,
padaMu...
Wanita itu,
dia mungkin lebih menderita dari pada aku...
Jiwanya pastilah lebih terluka daripada jiwaku
dan rindunya,
mungkin lebih mendalam daripada rinduku padaMu
Lalu,
apa memang pantas aku meminta hatiMu
sedangkan untuk memperjuangkan diriMu saja
aku tak sanggup melakukannya...
Tak seperti wanita itu,
yang sedaya upayanya mempertahankan keberadaanMu
di sisinya...
Aku mungkin tak lebih pantas mendapatkan cinta itu
cinta yang betul-betul tulus tuk saling memiliki
Aku mungkin tak lebih layak mendapat tempat di sisiMu
di mana kebahagiaan abadi kan selalu mengharumi nurani...
Kini aku sadar akan semua itu,
dan hanya satu yang aku harapkan untuk terakhir kalinya
yaitu, semoga keikhlasan ini dapat ku persembahkan
untuk kebahagiaanMu dan wanita itu...
Sekarang, Nanti, dan untuk selamanya
Walau ini terasa berat untukku
aku akan terus mencoba dan berusaha
karena, hanya dengan inilah
aku dapat merasakan kebahagiaanMu...
(for someone in Heaven with His Angel)
Tuesday, October 21, 2008
"SELAMAT JALAN SAHABAT..."

"Sahabat... kau akan selalu menjadi teman dalam hidupku. semua tentangmu akan selalu berada di buku memori perjalanan hidupku. Persahabatan kita, semua yang pernah kita lalui bersama. Pertengkaran kecil, tertawa dan menangis bersama, pernah kita lalui dan rasakan juga. Darimu lah aku mengenal betapa indahnya persahabatan itu.
Namun maafkan aku, hingga kepergianmu hari ini aku masih tak sempat menemuimu. bahkan mengantarmu hingga ke tempat peristirahatanmu yang terakhir. Sahabat, aku akan terus menemani kepergianmu, bersama doa yang ku hantarkan dari sini. Doa agar kau diterima di sisi sang Pencipta, Allah swt.
Untuk sahabat terbaikku IRMA PRATIWI ASIH. SEMOGA KAU BAHAGIA DAN DAMAI DI SANA. dan AKU DISINI TAK AKAN PERNAH MELUPAKAN DIRIMU...
SELAMAT JALAN SAHABATKU.."
Saturday, July 19, 2008
Cerita dari Negeri Mimpi
Ada sebuah cerita dari negri mimpi. Cerita tentang sebuah putri tidur yang selalu bermimpi akan bertemu dengan seorang pangeran yang akan menolongnya bangun dan menikahinya di kemudian hari.Namun mimpi hanyalah sebuah mimpi, setiap kali ia bangun dari mimpinya, maka tiap kali itu pula ia akan bersedih karena kecewa. Sebab penantiannya akan seorang pangeran, tak ubahnya bak punduk merindukan bulan.
Negri mimpinya hanyalah gambaran akan mimpi yang ia punya, hingga suatu saat sang putri tidur beranjak pergi dari negrinya itu. Mencari kehidupan di luar tempat ia tinggal selama ini. Ya, Ia sangat menginginkan penjelasan mengapa mimpinya tak kunjung terwujud.
Maka pergilah ia berkelana mencari jawaban akan pertanyaannya itu. Sampai pada suatu hari, sang putri yang saat itu sedang berada di sebuah desa yang indah nan permai. Di desa itu ia merasakan suasana yang sangat berbeda dari tempat dimana ia tinggal sebelumnya, negri mimpi. Di sana ia melihat pemandangan yang sama sekali belum pernah ia lihat.
Keindahan desa itu tak cukup mampu menutupi apa yang menimpa para penghuni desa itu. Desa yang dari awal dirasakan sang putri tidur adalah desa yang nyaman dan tentram di mana masyarakatnya akan hidup nyaman dan damai. Ia salah, dan dia sadar bahwa keindahan desa itu hanyalah sebuah kamuflase belaka. Desa itu tak ubahnya sebuah sangkar emas yang menutupi para tawanan yang ada di dalamnya. Bagaimana tidak, ketika putri tidur berjalan di sebuah pesawahan, ia melihat sekelompok orang dengan berlumuran lumpur,sedang menggarap lahan sawah yang bukan milik mereka. Tubuh-tubuh kurus nan renta mereka, mencerminkan dengan jelas bagaimana penghidupan mereka selama ini. Ketika sang putri melangkahkan kakinya ke sebuah pasar rakyat di tengah kota, betapa terkejutnya ia ketika melihat sekumpulan orang dengan pakaian compang camping sedang duduk berjejeran dengan sebuah kaleng kecil di depan mereka. Mereka mengucapkan berbagai kalimat rayuan yang bernada pilu dan menyayat hati. membuat hati siapa pun yang mendengar permintaan mereka itu menjadi simpatik dan langsung memberikan apa yang mereka pinta itu. Dan betapa seringnya sang putri melihat banyak dari mereka yang berlalu lalang di sekitar mereka, tak ambil peduli dengan apa yang mereka lihat.
Sang putri berjalan lagi menuju sebuah rumah besar. seperti puri tempat raja-raja tinggal. Sangat kontras dengan pemandangan yang sebelumnya ia lihat. Ketika sang putri mencoba masuk, betapa terperanjatnya ia melihat isi dari puri itu. Di sana berjejer makanan-makanan lezat dan bermacam anggur berkualitas. Sengaja disuguhkan pada raja dan tamu-tamu dari luar kerajaannya. Selain itu budak-budak dan hamba sahaya dengan peluh kepatuhan melayani mereka semua. Ada keterpaksaan yang luarbiasa dapat terlihat dari wajah-wajah mereka yang keletihan. Namun raja dan para tetamu dengan riang bahagianya tertawa bersama.
putri tidur seolah tak percaya dengan apa yang di saksikannya di desa ini. Bagaimana tidak, keadaan di puri ini sangat kontras sekali dengan apa yang dilihatnya di sawah dan di pasar.Hingga putri tidur sama sekali lupa dengan tujuan awalnya berkelana -mencari seorang pangeran yang mau mempersuntingnya- Pantaslah kalau apa yang selama ini diimpikan putri tidur tak tercapai juga, Ia seolah terbangun dari tidur panjangnya. Terbangun akan kenyataan, bahwa tak akan ada lagi negri mimpi dan pangeran yang akan membawanya pada kebahagiaan. Karena kebahagiaan sama sekali tak pernah dirasakan di negrinya ini (Bersambung..)
Negri mimpinya hanyalah gambaran akan mimpi yang ia punya, hingga suatu saat sang putri tidur beranjak pergi dari negrinya itu. Mencari kehidupan di luar tempat ia tinggal selama ini. Ya, Ia sangat menginginkan penjelasan mengapa mimpinya tak kunjung terwujud.
Maka pergilah ia berkelana mencari jawaban akan pertanyaannya itu. Sampai pada suatu hari, sang putri yang saat itu sedang berada di sebuah desa yang indah nan permai. Di desa itu ia merasakan suasana yang sangat berbeda dari tempat dimana ia tinggal sebelumnya, negri mimpi. Di sana ia melihat pemandangan yang sama sekali belum pernah ia lihat.
Keindahan desa itu tak cukup mampu menutupi apa yang menimpa para penghuni desa itu. Desa yang dari awal dirasakan sang putri tidur adalah desa yang nyaman dan tentram di mana masyarakatnya akan hidup nyaman dan damai. Ia salah, dan dia sadar bahwa keindahan desa itu hanyalah sebuah kamuflase belaka. Desa itu tak ubahnya sebuah sangkar emas yang menutupi para tawanan yang ada di dalamnya. Bagaimana tidak, ketika putri tidur berjalan di sebuah pesawahan, ia melihat sekelompok orang dengan berlumuran lumpur,sedang menggarap lahan sawah yang bukan milik mereka. Tubuh-tubuh kurus nan renta mereka, mencerminkan dengan jelas bagaimana penghidupan mereka selama ini. Ketika sang putri melangkahkan kakinya ke sebuah pasar rakyat di tengah kota, betapa terkejutnya ia ketika melihat sekumpulan orang dengan pakaian compang camping sedang duduk berjejeran dengan sebuah kaleng kecil di depan mereka. Mereka mengucapkan berbagai kalimat rayuan yang bernada pilu dan menyayat hati. membuat hati siapa pun yang mendengar permintaan mereka itu menjadi simpatik dan langsung memberikan apa yang mereka pinta itu. Dan betapa seringnya sang putri melihat banyak dari mereka yang berlalu lalang di sekitar mereka, tak ambil peduli dengan apa yang mereka lihat.
Sang putri berjalan lagi menuju sebuah rumah besar. seperti puri tempat raja-raja tinggal. Sangat kontras dengan pemandangan yang sebelumnya ia lihat. Ketika sang putri mencoba masuk, betapa terperanjatnya ia melihat isi dari puri itu. Di sana berjejer makanan-makanan lezat dan bermacam anggur berkualitas. Sengaja disuguhkan pada raja dan tamu-tamu dari luar kerajaannya. Selain itu budak-budak dan hamba sahaya dengan peluh kepatuhan melayani mereka semua. Ada keterpaksaan yang luarbiasa dapat terlihat dari wajah-wajah mereka yang keletihan. Namun raja dan para tetamu dengan riang bahagianya tertawa bersama.
putri tidur seolah tak percaya dengan apa yang di saksikannya di desa ini. Bagaimana tidak, keadaan di puri ini sangat kontras sekali dengan apa yang dilihatnya di sawah dan di pasar.Hingga putri tidur sama sekali lupa dengan tujuan awalnya berkelana -mencari seorang pangeran yang mau mempersuntingnya- Pantaslah kalau apa yang selama ini diimpikan putri tidur tak tercapai juga, Ia seolah terbangun dari tidur panjangnya. Terbangun akan kenyataan, bahwa tak akan ada lagi negri mimpi dan pangeran yang akan membawanya pada kebahagiaan. Karena kebahagiaan sama sekali tak pernah dirasakan di negrinya ini (Bersambung..)
Subscribe to:
Posts (Atom)

