Monday, December 30, 2013

Sunday, February 27, 2011

Sang pencari Tuhan bertanya pada langit,
di mana letak rmh Tuhan???
ia ingin berjumpa dan meminta penJelasan tentang aturan Tuhan pada Dunia...

Ia tidak mengerti mengapa manusia yang mengaku sudah bertemu Tuhan dan bangga dengan Imannya,
dengan sesuka hatinya melakukan kerusakan di Bumi,
Mengadili sesamanya,
menganggap kebenaran adalah miliknya..

Sang pencari Tuhan bertanya pada matahari,di manakah DIA berada?
Ia ingin berjumpa dan meminta KuasaNya untuk ketenangan Bumi yang kini dipijaknya...
Ia terus bertanya tentang Tuhanya,
Tentang semua yang semakin tak diMengertinya tentang Manusia...

Saturday, February 26, 2011

cinta itu pilihan??

Apakah mencintai seseorang itu pilihan?
Kadang kala seseorang yang kita harapkan, hanya dapat menjadi bayangan yang selalu mengikuti setiap langkah-langkah kita...

Aku memilih mencintaimu...
itu karena aku ingin mencobanya
sesungguhnya cinta ini ku beri karena aku memilihmu..
walau jujur, ada seseorang di lubuk hatiku yang masih mengisi ruangan itu...

Aku memilih mencintaimu...
itu karena keyakinanku akan mampu menghapus semua raguku...
jujur, walau hati ini masih meraba dan mencoba untuk sepenuhnya memberikan hatiku...
karena masih ada cerita yang belum tuntas antara aku dan dia...

Apakah mencintai seseorang itu sebuah pilihan??
Aku jawab "IYA"...
karena kini aku memilih KAMU untuk KU CINTAI seumur hidupku...

Monday, February 21, 2011

DI TEPIAN DANAU BIDADARI

Rasanya baru kemarin sore aku berdiri di pinggir danau ini, memandangi air yang memantulkan warna-warni sinar kemilau matahari sore. Sesekali masih terdengar riak air yang ditimbulkan akibat bebek-bebek yang sedang bercanda saling menggoda. Ingatku, baru kemarin sore aku berada di tempat ini, menikmati keindahan danau gambaran kemahabesaran tuhan atas alam ini. Ya... rasanya baru kemarin, tapi itu hanya perasaanku saja karena sudah sekitar sepuluh tahun aku tak pernah mengunjungi danau ini lagi. Sudah sepuluh tahun, tepatnya sejak aku kehilangan seorang sahabat sejati yang pernah ku miliki selama hidupku.

Dua tahun yang lalu, ketika itu aku masih dapat menikmati kebahagiaan dan keberuntungan karena dilahirkan di desa kecil ini. Desa yang telah membesarkanku dengan segenap kasih sayang dari keluarga, dengan penuh cinta dan kebersamaan dari teman dan sahabatku. Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung dan berbahagia di dunia, saat itu. Bagiku kesedihan adalah sesuatu yang asing, karena tak pernah sekalipun aku mengenalnya. Bagiku air mata adalah sesuatu yang membahagiakan, karena hanya perasaan itulah yang dapat membuat aku menitihkan air mata. Hidupku sesuatu yang sangat berarti, karena keberadaan orang-orang yang mencintaiku dan tentunya sangat aku cintai.

Tapi itu dulu, dua tahun yang lalu telah berlalu dan keasinganku pada kesedihan kini telah berganti menjadi ‘seorang’ teman yang selalu menemani hari-hariku. Tak ada lagi air mata yang ditimbulkan rasa bahagia karena air mata ini telah kupersembahkan sepenuhnya untuk rasa luka dan kesedihan itu. Aku semakin menikmati kepedihan yang bersarang di diriku. Rasanya hanya itu yang dapat membuatku mampu berpijak di bumi ini. Penderitaan dan kesedihan itulah yang menandakan bahwa aku masih hidup.

Danau ini masih tetap sama seperti terakhir kali aku di sini, masih tetap indah, masih tetap membuatku nyaman dan damai. Tapi tidak perasaan yang selanjutnya kurasakan, menyadarkanku akan kealfaan seseorang yang selalu berada di sampingku saat menikmati eksotik danau kecil ini. Dia adalah Fandy, gadis manis itu kini tak ada dan tak akan pernah ada untuk menemaniku di sini. Fandy, gadis manja nan penyayang itu tak akan pernah ku dengar lagi suara merdunya yang melantunkan lagu-lagu ceria ketika kami sedang asik berbaring di rumput-rumput pinggir danau ini.

Aku kini tertunduk, ada sebuah genangan air kecil yang kini tercipta di sela-sela bola mataku. Mendesak ingin segera tumpah dari tempatnya, mengaliri pipi tomatku. Lagi-lagi air mata ini harus kuteteskan, ketika nama itu terukir di benarkku. Ada dorongan kuat yang menghantam dadaku, membuatku tak mampu bernafas dengan baik, seolah aku tak akan memperoleh udara lagi. Sesak, rasanya benar-benar menyakitkan ketika nama itu kueja dengan suara siir. Sekarang aku sudah benar-benar menangis, membuang seluruh kepedihan ini, walau sebenarnya rasa itu tak akan pernah benar-benar terbuang dari hatiku.

Kupalingkan wajahku, menatapi danau yang masih bermandikan cahaya temaram sore. Kini warnanya berubah menjadi kekuning-kuningan, mengisyaratkan bahwa sebentar lagi sang raja siang akan pulang keperaduannya, berganti dengan sang pemilik malam yang akan menemani burung punduk yang bertengger di pepohonan.

Rasanya aku masih ingin terus berlama-lama tuk tinggal di tempat ini, namun itu tak mungkin karena aku harus segera beranjak pergi kembali ke rumah. Tak mungkin tega aku membiarkan bunda berlama-lama menungguku dengan perasaan cemas menanti kepulanganku. Wanita itu sudah sangat sedih melihat diriku, tak ingin kutambahkan lagi ia dengan rasa khawatir. Bunda sudah sangat baya mengurusiku, sampai detik ini belum satupun kebahagiaan yang dapat ku persembahkan untuknya.

Dengan gontai kulangkahkan juga kakiku menuju rumah. Sepanjang jalan pikiranku masih tetap tertuju pada danau yang baru kukunjungi tadi. Rasanya aku telah meninggalkan seluruh isi otakku di sana, kini dikepalaku hanya ada semua kenangan yang pernah kulalui bersama Fandy.

***

Pagi itu, tak ada lagi suara canda tawa bocah-bocah kecil yang dengan riangnya berlari berkejar-kejaran di halaman rumah tua yang hampir bobrok itu. Sunyi, sepi, benar-benar berbeda dari hari sebelumnya. Dedaunan yang selalu digugurkan oleh angin, seolah ikut berhenti bermain. Lenggang, hanya kebisuan yang menemani rumah tua itu.

Aku berdiri di sisi bangunan yang entah sudah berapa lama berdiri. Di setiap sisi rumahnya terlihat sudah banyak yang keropos dimakan masa, menegaskan ketuaan rumah itu. Kesan pertama yang tertangkap ketika berada di sana adalah angker dan menyeramkan. Membayangkan tinggal di sana, merupakan sesuatu yang harus dibuang jauh-jauh karena siapapun yang tinggal di sana tak akan betah untuk berlama-lama, walau hanya sekedar duduk-duduk saja.

Kembali aku awasi sekeliling rumah itu, di sisi depan dan samping rumah masih terdapat pintu dengan ukiran-ukiran khas jepara. Di bagian depan teras rumah terdapat sepasang tiang penyanggah rumah yang masih tampak kokoh, menunjukkan betapa hebat bangunan ini pada masanya dulu.

Kulangkahkan kakiku menyusuri taman bunga kecil yang tumbuh di halaman rumah bergaya tropis itu. Di sana, bunga-bunga lili warna-warni tertata rapih, kontras dengan pemandangan rumah yang tadi kulihat. Tanaman-tanaman yang tumbuh subur dan indah ini, membuatku berfikir kalau si empunya taman adalah orang yang sangat ahli dalam merawat bunga-bunga ini.

Kini aku telah berada tepat di depan pintu rumah tua itu, ada perasaan ragu menyeruak di benakku. Keraguan yang tadi kurasakan ketika hendak menuju rumah bercat biru awan itu. Namun sedetik kemudian kepalan jariku sudah mengetuk pintu hingga menimbulkan bunyi dentuman keras yang memecahkan kesunyian yang tadi tercipta. Ketukan yang kubuat semakin terdengar keras, bermaksud agar siapapun yang berada di dalamnya akan segera mengetahui bahwa mereka sedang kedatangan seorang tamu.

Sedetik... dua detik... hingga hampir 15 detik, pintu di hadapanku tak juga terbuka. Apakah tidak ada orang di dalam sana? Ujarku dalam hati. Namun, ketika aku akan mengetuk lagi, tiba-tiba terdengar sebuah langkah kaki yang mendekati sisi di balik pintu. Dan tak lama kemudian terdengarlah suara kunci yang berputar membuka daun pintu dihadapanku.

Kudapati seorang wanita renta berdiri tepat di depanku. Wajah pucat pasi itu penuh dengan garisan-garisan halus di tiap bagian wajahnya yang tampak mulai longgar akibat keriput. Wanita renta itu menatap tajam ke arahku, tanpa senyum atau tanpa ekspresi lainnya. Beliau diam, seraya terus mengawasi wajahku. Akupun seolah tersihir dengan tatapan tajamnya bak seekor Elang yang mengincar mangsanya. Aku tak mampu berkata-kata, hingga menciptakan kebisuan entah beberapa lama. Sampai akhirnya wanita bersongkok itu mendehem, memberi tanda bahwa aku harus segera mengajukan maksud dan tujuan kedatanganku ke rumahnya.

Aku tersadar, dan dengan melemparkan sebuah senyuman yang -kurasa dan yakin- termanis aku segera berucap, menjelaskan maksud kedatanganku mengunjunginya.

“Selamat pagi, bu... Masih ingat dengan saya?” ujarku tanpa memperpanjang basa-basi. Wanita paruh baya itu semakin lekat memandangiku. Aku kembali tersenyum kearahnya. Ada rasa canggung yang kurasakan akibat tatapan itu.

“Siapa ya?” akhirnya keluar juga sebuah kata dari bibir yang juga pucat itu. Dengan raut bingung, seakan ia memintaku agar secepatnya memperkenalkan diri.
Senyum yang tadi terkembang di bibirku kini hilang sudah, berganti dengan kekecewaan yang tak dapat kusembunyikan. Aku benar-benar terpukul telak mendapati wanita yang ada di hadapanku ini benar-benar tak mengenaliku lagi. Dengan senyum sinis aku berucap, berusaha menyebutkan namaku,

“Saya Tania, bu.” Ujarku singkat, sesingkat perasaan bahagia yang sempat kurasakan tadi.
Mendengarku mengucapkan sebuah nama, wanita di depanku terlonjak kaget. Rasanya dia baru saja dikagetkan oleh suara dentuman meriam, tepat di samping telinganya. Wajah pucat pasi itu semakin bertambah pucat dengan mata yang melebar, memelototiku. Lalu tiba-tiba wanita itu meraung, tangisannya pecah bersama air mata yang tumpah ruah, entah darimana datangnya. Aku menjadi panik melihat peristiwa yang sama sekali tak pernah kubayangkan sebelumnya akan terjadi. Lalu kupeluk tubuh ringkih itu, kudekap dengan erat dalam dekapan tanganku, mencoba memberikan sebuah perasaan tenang agar beliau menghentikan tangisannya.

“Tania... ohhh, Tania....” Isaknya pilu. Mendengar suaranya itu aku sempat menggidik karena terharu. Suara itu, tangisan itu, dan air mata yang tumpah bak dam yang bocor itu dengan jelas mengatakan padaku bahwa entah sudah berapa lama wanita dalam pelukanku ini menderita karena menahan rindu dan kesedihan. Aku seolah larut dalam kesedihan itu. Mulutku tak mampu berucap, hanya kebisuan yang dapat kulakukan untuk memberikan kesempatan bagi diriku sendiri menikmati kepedihan dan rasa rindu dari orang yang telah lama tak pernah kutemui ini.

Entah berapa lama kami saling diam membisu. Kini wanita paruh baya tadi sudah tak lagi dalam pelukanku. Beliau sudah berada tepat di sebelah tempat aku duduk. Setelah kejadian tangis-tangisan tadi, kami berdua masih saling membisu, tak ada satu patah katapun yang mampu kukeluarkan. Walau hanya sekedar ucapan “Apa kabar?”. Rasanya basa-basi tak lagi mampu memperbaiki keadaan dramatis ini. Semua telah larut dalam tangisan yang pecah tadi.

“Kapan kamu sampai di desa ini?” Tanya Wanita di sampingku. Ternyata kebisuan ini memang harus segera diakhiri. Tak enak rasanya kalau harus berlama-lama memberi tempat pada rasa sedih ini.

“Kemarin siang, Bu.” Ujarku singkat. Kutatap sekilas wajahnya yang kini sedang tertunduk lesu. Ada kelelahan yang terpancar di sana. Kelelahan karena telah memikul kesendirian terlalu lama. Tak tega rasanya melihat orang yang pernah dekat denganku, semenderita itu. Kupalingkan pandanganku, menatap ruangan tua bergaya eropa tempo dulu itu. Perabotan pecah belas tersusun dengan apik dan rapih. Walau sudah amat tua tetapi barang-barang itu masih terlihat mahal dan mewah.

Lalu kemudian kuarahkan pandangan kembali ke wajah tua yang lembut di hadapanku. Wanita itu masih tertunduk diam tak bersuara, membiarkan sunyi tercipta di antara kami. Aku mulai merasa canggung berada di rumah ini. Berbeda sekali dengan sepuluh tahun yang lalu, rasanya rumah inilah yang paling kurindukan untuk segera berehat dan bercanda gurau. Yah, kembali terlintas seraut muka lembut yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku akhir-akhir ini. Wajah itu, wajah yang telah hilang sejak sepuluh tahun yang lalu dan kini hadir mengganggu malam-malamku. Aku kembali terpuruk meratapi kesedihan yang telah ditinggalkan gadis manis itu sebagai tumbal atas kepergiannya.

Aku masih tetap bertahan untuk tak berkata apapun, kubiarkan diriku dan wanita paruh baya itu menikmati suasana kesedihan dan kesepian ini. Kami sama-sama merasakan kepedihan yang amat dalam itu, karena kami berdua adalah orang-orang yang ditinggalkan gadis terkasih, Fandy, seorang sahabat dan seorang anak. Ya... dia terlalu sulit kami lupakan karena kami sama-sama terlalu menyayangi dan bahkan terlalu mebutuhkan kehadirannya untuk mengisi ruang kosong dalam hari-hari ini.

“Kamu sudah mengunjungi Fandy?” Suara itu terasa menggelegar di telingaku. Pertanyaan itu kembali menyesakkan dadaku, seperti ada seonggok batu besar menghambat jalan udara masuk ke paru-paruku. Aku semakin tertunduk dalam. Hanya kebisuan yang mampu kuberikan atas pertanyaan itu.

Bagaimana mungkin aku dapat menjawabnya, sedang aku belum mengunjungi tempat peristirahatan terakhir sahabat sejatiku itu. Aku tak mampu mengalahkan kesedihan dan ketakutan dalam diriku ketika akan mengunjungi makamnya. Bayangan kejadian sepuluh tahun silam selalu dengan cepatnya berseliweran di benakku, menakut-nakutiku bagai cerita mistik yang selalu menghantui setiap benak anak kecil. Kemudian akupun tak mampu melangkahkan kaki. Hanya menjadi diam, terpaku memandangi dari jauh seonggok tanak padat yang di atasnya ditanami sebatang kamboja, yang kuyakin adalah tempat Fandy dimakamkan.

“Kemarin dia datang dalam mimpi Nia, Bu. Di sana dia sedang menangis, katanya dia rindu ingin bertemu dengan Nia. Untuk itulah Nia kembali ke desa ini.” Kuputuskan untuk menjelaskan maksud kedatanganku.

“Namun ketika Nia akan ziarah ke makannya. Nia tak sanggup Bu. Rasanya kejadian itu baru terjadi kemarin. Nia tidak kuasa meneruskan niat itu. Maafkan Nia, Bu” Lanjutku lagi, seolah menjawab semua pertanyaan yang tadi dikemukakan oleh wanita itu. Beliau kembali tertunduk, melilit-lilitkan ujung bajunya pada jari telunjuk yang tampak sudah mulai berkerut di sana-sini.
Waktu benar-benar terasa lambat berjalan. 30 menit, rasanya sudah berhari-hari aku duduk di ruangan itu. Entah bagaimana cara untuk mencairkan batu es yang terhampar di hadapan kami. Menghalangi kehangatan yang dulu pernah terjalin di antara kami.

“Sudahlah, tak usah kamu mengingat-ingat kejadian itu lagi. Itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Rasanya sangat menyiksa kalau peristiwa menyedihkan itu harus terus digali setiap kali kita bertemu.” Kembali beliau berkata, nada suaranya seolah ingin mengingatkan ku – atau mungkin dirinya sendiri - akan arti keikhlasan dan kenyataan.

Mendengar kalimat itu aku tersenyum miris. Goresan itu terlalu dalam dan terlalu lebar untuk dapat disembuhkan. Bagiku kenangan menyedihkan itulah teman terbaikku saat ini.
Baiklah, setelah panjang lebar aku ceritakan bagaimana pertemuan pertamaku dengan seorang wanita paruh baya itu, sejak sepuluh tahun silam tak pernah kutemui, aku akan menceritakan apa sebenarnya penyebab dari semua ini. Karena aku yakin kalian akan bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi antara aku, Fandy, dan wanita itu.

***

Fandy, gadis bermata bulat dan bertubuh kurus dan kecil itu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki selama hidupku. Gadis berkulit putih itu adalah orang yang paling berharga dalam hidupku-tentunya setelah kedua orang tuaku-, dialah yang selama ini menggerakkan setiap tenaga yang ada dalam tubuhku. Tanpanya aku bukan siapa-siapa dan aku yakin aku pun tak berdaya.
Aku ingat bagaimana pertama kali kami bertemu. Ketika itu adalah hari pertamaku merasakan menjadi seorang murid smp. Dengan masih menggunakan pakaian kebesaran sd, yaitu seragam putih merah, aku berjalan menyusuri lorong sekolah yang akan mengukirkan kenangan-kenangan indah dalam hidupku, yang tentunya kan ku bawa sampai aku mati. Tepat ketika aku berdiri di sebuah ruangan yang ukurannya tak terlalu besar untuk ukuran sebuah kelas, aku mendengar suara isakan dari dalamnya. Awalnya aku merasa takut, siapa gerangan sosok di dalam sana yang kini sedang dilanda kesedihan.

Dengan segenap keberanian yang telah kukumpulkan, aku memutuskan melangkahkan kaki untuk masuk keruangan itu. Pertama kali melewati pintu, suasana seram sudah menyelimuti perasaanku, menggetarkan keberanian yang kupunya. Tapi rasa penasaran dan ingin tahuku mengalahkan semua rasa takut itu. Aku adalah orang yang mempunyai watak ingin tahu yang sangat besar. Dengan watak itulah aku mampu mengalahkan semua ketakutan dan rintangan yang aku hadapi. Demi sebuah jawaban atas rasa penasaranku, aku mampu malakukan apa saja -bahkan hal tertolol yang pernah dilakukan orang di muka bumi ini- Aku takkan dengan mudahnya menyerah, sebelum semua pertanyaanku tarjawab dan terpuaskanlah hasrat ingin tahu di hatiku. Tak jarang karenanya aku mendapat banyak bahya yang siap kapan saja merenggut keselamatan bahkan nyawaku.

Akhirnya aku sampai juga pada sebuah meja yang biasa digunakan sebagai meja guru dalam kelas-kelas, yang letaknya kini di bagian belakang ruangan. Dengan dada yang berdegup kencang, aku mencoba melihat siapakan makhluk yang bersarang di sana. Dan ketika mataku menangkap sebuah sosok yang sedang bersedih itu, bukannya kaget atau heran aku malah dengan santainya menghampiri gadis kecil berkepang dua itu dengan senyum mengembang di bibirku.

“Ada apa, mengapa kamu menangis di sini?” itulah pertanyaan yang kulontarkan pertama kali saat itu. Dan dengan penuh isak, sang gadis cilik menjawab pertanyaanku.

“Aku takut... aku nggak mau sekolah di sini...” ujarnya dengan penuh kesedihan. Aku semakin menjadi penasaran melihat tingkah mahluk manis di depanku itu. Seolah mengerti akan kebingungan mukaku, gadis di hadapanku itu meneruskan ucapannya dengan terbata-bata, “Aku takut kalau harus sekolah di sini sendiri. Kata Ibu, aku harus berani sekolah tanpa ditemani, karena sudah besar sekarang.”

Aku ingat sekali, saat itu perutku serasa ada yang mengocok tiba-tiba mengakibatkan aku ingin terpingkal-pingkal akibat jawaban itu. Namun semua itu tak ku lakukan karena aku tahu bagaimana situasi saat itu. Tak mungkin aku membuat sedih gadis kecil bermata hitam belok ini. Dengan sok bijak sana plus tampang yang dibuat sok tua aku segera mendekati tubuh kecil yang sedang berjongkok di bawah meja, membuat dirinya tampak seperti anak kucing malang yang sedang bersembunyi ketakutan akibat ditinggal oleh sang induk. Ketika jarakku semakin dekat, gadis itu perlahan-lahan mundur seolah tak ingin didekati olehku. Wajah polos nan lucu itu tampak jelas sekali sedang menyiratkan ketakutan yang luar biasa. Lagi-lagi aku ingin tertawa melihatnya. Melihat seorang gadis kecil yang sedang ketakutan hanya karena akan bersekolah tanpa ditemani ibunya. Mungkin itulah pengalaman pertama yang paling berkesan bagiku saat pertama kali aku menginjakkan kaki di SMP. Sekolah yang memberikan begitu banyak kenangan indah dalam hari-hariku yang akan menjadi sebuah peti harta karun dalam hatiku yang sewaktu-waktu akan kubuka saat aku beranjak dewasa meninggalkan sekolah dan kenangan itu. Yah, tepatnya seperti saat ini. Saat dimana aku sedang rindu pada masa-masa itu. Masa-masa saat aku bersepeda bersama gadis kecil yang manja dan penakut yang pernah aku jumpai di sebuah ruangan kosong di sekolah pertama ku.

“Tania... ke sini sebentar. Lihat deh betapa indah danau ini. Aku baru tahu kalau ada danau seindah ini. Padahal sudah bertahun-tahun aku tinggal di desa ini. Tapi mengapa baru sekarang aku sadar bahwa desa kecil nan indah ini menyimpan sebuah tempat mandi bidadari dari kayangan?” Itulah celotehan yang aku dengar dari mulut mungil Fandy. Celotehan yang penuh nada kekaguman akan keindahan dan kemaha agungan sang pencipta semesta. Saat itu aku hanya tersenyum memandangi mimik mukanya yang tertegun penuh pesona memandangi air-air yang sedang menari bersama cahaya matahari yang diikuti oleh semak belukar ditepian danau yang tak mau ketinggalan menari bersama diayun angin sepoi-sepoi.

Dan tempat itulah yang akhirnya menjadi bascamp kami berdua. Tempat kami melepas semua kelelahan akibat rutinitas yang padat tiap hari-hari kami. Membuang semua kesedihan yang kami rasakan hingga datang sang dewi kebahagiaan menghampiri hati kami. Danau yang membuat kami semakin lekat dan saling mengisi tuk menjadi berarti. Danau yang mengenalkanku pada sebuah persahabatan yang tak pernah kukenal sebelumnya. Bahkan danau ini juga yang menjadikan aku sebagai seorang manusia yang amat menghargai akan seorang soulmate. Yah... bagiku Fandy adalah sahabat dan soulmate bagi diriku. Dan kini aku telah kehilangan semua itu. Seorang sahabat dan separuh jiwaku telah terbang bersama kepergian peri kecil itu.

Memoriku kembali pada sebuah peristiwa yang terjadi ketika aku duduk di kelas 2 smp. Saat itu Fandy membuat sebuah kehebohan yang menggemparkan seluruh penduduk desa tempat kami tinggal. Fandy mendadak hilang bagai ditelan bumi. Sebabnya adalah karena Fandy sedang dimabuk asmara, namun malangnya kebahagiaan seorang gadis yang baru merasakan indahnya cinta itu harus berhadapan dengan keegoan orang tuanya yang melarang sang anak untuk merasakan manis-manis permen bernama cinta itu. Keegoisan yang dibungkus dengan kasihsayang dan ketakutan.
Akibat dari pertentangan itulah akhirnya Fandy nekat untuk minggat dari rumahnya. Seorang Fandy yang manja dan penakut mampu menjadi seorang gadis nekat dan pemberani akibat cinta yang memabukkan.

“Nia, aku malam ini numpang nginap di rumah kamu ya. Aku pengen nemenin kamu.” Ujar cewek bermata bola pimpong itu pada suatu hari. Aku ingat sekali kalau saat itu adalah malam minggu. Aku yang memang sering ditinggal orang tua yang bekerja di luar kota, dengan rasa bahagia menerima permohonan itu. Tak pernah kubayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ternyata Fandy sedang minggat dari rumahnya hanya karena ingin keluar nonton bioskop dengan sang pacar. Sejak saat itu, semakin ketatlah pengawasan untuk gadis yang baru mengenal berjuang untuk orang yang dicintainya. Namun seketat apapun pengawasan dari ibunya, Fandy selalu berhasil mengelabui orang tuanya. Keberhasilan itu tak lain dan tak bukan karena persengkokolan ku, yang membantunya agar dapat terbebas dari monitor ibunya.

Alasan demi alasan mewarnai kebohongan-kebohongan yang kami ciptakan, kalau nggak terlambat pulang karena ada pelajaran tambahan, ke perpustakaan, atau menemaniku yang sedang ditinggal sendiri, serta banyak lagi alasan-alasan yang kami ciptakan. Rasanya saat itu otak kami bekerja dengan sangat kreatif, ditambah pacuan adrenalin karena takut kalau-kalau kebohongan kami terbongkar. Tapi semua itu dengan senang hati kami jalani. Rasanya amat sangat bahagia kalau kami berhasil menjalankan misi berbohong kami. Hanya untuk satu alasan, yaitu CINTA.

***

Tahun berganti tahun, tak terasa hari itu adalah hari terakhir aku dan Fandy menjalani lakon sebagai anak SMP. Minggu-minggu perjuangan ujian akhir nasional akan segera kami jalani. Rasa was-was dan tegang menghadapi soal-soal ujian akan kami rasakan. Dan inilah waktunya untuk ‘berjuang’ mati-matian, menyelesaikan semua urusan yang telah dimulai tiga tahun yang lalu. Dan hanya dalam seminggu inilah semua usaha kami selama tiga tahun akan diperjuangkan. Berhasil lulus atau harus gugur di medan perang. Itulah istilah pak Arman, wali kelasku, saat memberikan petuah kepada para murid kelas 3.

Seperti biasanya, siswa-siswa akan dipisahkan sesuai dengan nomor pokok siswa-nya. Dan hal itu membuat aku dan Fandy harus terpisah ruang selama seminggu. Namun diluar ujian kami selalu menghabiskan waktu bersama, sekedar untuk membahas lembar-lembar soal bayangan yang diberikan guru-guruku. Dan danau bidadari lah satu-satunya pilihan kami. Disana waktu seolah berhenti berjalan, hanya ada aku, Fandy dan ribuan semak-semak yang menari bersama angin ditemani musik dari air-air yang bergemercik, benar-benar membuat perasaan nyaman, benar-benar tak ingin beranjak dari sana.

“Nia, nggak kerasa ya besok sudah hari terakhir ujian. Pasti nanti, setelah semua ini berakhir, kita akan sangat merindukan saat-saat kita menghabiskan waktu seperti saat ini.” Ujar Fandy tiba-tiba. Aku terpaku sebentar, mencerna ucapan dari cewek yang sedang berbaring di sebelahku. Aneh! Itu pendapatku saat mendengar kata-kata Fandy.

“Apaan sih. Besok itu kan hanya hari terakhir ujian. Bukan terakhir kali kita bersama-sama. Kayak mau pisah aja. Lagian kenapa juga kamu berfikir kita akan merindukan saat-saat seperti ini. Bukannya kita akan selalu bersama. Dan itu berarti kita akan selalu bersama-sama menghabiskan waktu di tempat ini.” Aku tak kalah berujar panjang lebar. Rasanya tak masuk akal kalau Fandy mengatakan kami akan merindukan saat-saat seperti ini.
Saat itu aku hanya mendengar kata-katanya sebagai pembicaraan semata, bukan sebagai sebuah isyarat akan kenyataan yang akan aku hadapi. Semua terasa berlalu dengan cepat, secepat kenyataan yang datang menghampiri kehidupan yang sebenarnya, memulai episode baru tanpa seorang tokoh, yaitu Fandy.

“Nia, kalau besok kita berpisah aku ingin kamu terus mengunjungi tempat ini, Karena hanya di sini kita akan bertemu selamanya. Dan kamu harus berjanji, dimana pun kita berdua berada, kita tak akan saling melupakan. Kamu mau kan berjanji untukku, Nia?” Pertanyaan itu benar-benar menghentakkanku. Aku segera menatap wajah sahabatku itu lekat-lekat, mencari sebuah maksud dari semua perkataannya yang sangat tidak biasa, menurutku. Tapi dari wajah manisnya itu, tak aku dapatkan sedikitpun arti dari semua kelakuannya sore itu. Semua tampak wajar, parasnya masih semanis biasanya. Namun matanya lebih terlihat lebih sayu dari biasanya, tapi menurutku mungkin saja dia sedang lelah atau memang sedang tidak bersemangat akibat ujian dan tekanan yang sedang kami hadapi.

Walau tak wajar menurutku, namun tetap ku jawab juga pertanyaannya itu. Bagaimanapun aku harus memastikan bahwa persahabatan kami itu benar-benar sangat berarti untukku. Dan aku ingin Fandy tau akan hal itu.

“Fan, aku janji akan selalu mengingat kamu. Gimana bisa sih aku lupakan sama sahabar ‘jelek’ ku yang satu ini.” Ujarku mencoba bercanda seraya memeluknya, sayang. Entah mengapa ada sebuah rasa asing yang tiba-tiba menyeruak menusuk hatiku. Rindu, rasa itulah yang tiba-tiba menyerangku. Aneh, benar-benar aneh, bagaimana bisa aku merasakan rindu, sedangkan sahabatku ini berada dekat denganku. Tapi perasaan asing itu aku tepis secepatnya, tak mau aku mempunyai perasaan yang jelas-jelas membuatku takut sendiri.

“Tania Hafiz, aku sayang banget sama kamu, Terimakasih atas semua cerita yang kita rajut bersama. Mungkin tanpa kamu aku tidak akan merasa sebahagia ini. Kamu adalah sahabat sekaligus angel –ku,” Fandy membalas pelukanku dengan lebih erat. Aku hanya tersenyum, mendengar kata-kata yang “romantis” itu. Mungkin kalau saat itu ada orang lain yang mendengar kata-kata Fandy, bisa-bisa menyalah artikan hubungan kami ini. Tapi saat itu hanya angin dan rerumputan lah yang mendengar semua pembicaraan kami itu. Menyaksikan dengan seksama betapa saat itu adalah saat terakhir kali aku bertemu dengan Fandy, sahabatku.

Malampun akhirnya datang, memaksa kami untuk pulang kerumah kami masing-masing. Tak ingin membuat panik orang tua kami di rumah. Berjanji untuk berjumpa kembali besok hari di sekolah, tentunya.

Karena besok adalah hari terakhir ujian nasional, dan kami belum mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian besok dengan mengulang kembali soal-soal yang telah diberikan, aku memutuskan untuk segera berpisah menuju ke arah rumah kami masing-masing. Tak seperti biasanya, dimana aku akan mengantarnya hampir sampai separuh perjalanan menuju rumahnya. Begitulah kebiasaan kami kalau terlalu lama menghabiskan waktu di danau bidadari hingga larut malam. Fandy selalu tak berani untuk pulang sendiri. Fandy si manja, benar-benar tak seperti dirinya malam itu. Dia sama sekali tak menolak ketika aku memutuskan tidak mengantarkannya. Tapi entah mengapa semua itu seolah tak ada yang mencurigakan bagiku.

Malam itu pun berjalan seperti hari-hari sebelumnya, selain aku harus lebih fokus pada materi yang akan diujikan besok, tak ada hal yang menjanggal hatiku. Atau hal yang membuatku merasa panik.

Hingga keesokan harinya, aku baru menyadari semua petanda yang telah diisyaratkan Fandy untukku.
Isyarat kepergiannya yang sama sekali tak ku mengerti hingga akhirnya aku menyesali kebodohanku itu. Menyesali kepergiannya yang sama sekali tak berpamitan padaku. Kepergiannya untuk waktu yang sangat lama, bahkan sampai aku pun ikut pergi menyusulnya.

Ya, sepulang sekolah baru ku dapati kabar kalau Fandy ternyata mengalami kecelakaan. Bukan kecelakaan saat dia pulang menuju rumah, tapi hal yang tak pernah terbayangkan olehku sama sekali. Fandy ditemukan tenggelam di danau pelangi, di danau kami.
Janji itu seolah menjadi pengikat kami untuk selamanya. Fandy pergi bersama kenangan manis yang akan aku bawa bersama berjalannya kesedihan yang berdampingan bersamaku.

Penyelidikan ternyata berhasil mengungkapkan bahwa, setelah aku memutuskan berpisah untuk menuju rumah malam itu. Fandy memutuskan untuk kembali ke danau. Ia berniat untuk mandi di danau itu, sesuatu yang sama sekali tak pernah kami lakukan di danau itu. Fandy ternyata salah mengambil keputusan itu, setelah berenang hingga jarak yang cukup jauh dari pinggiran danau, ia kehabisan tenaga untuk kembali ke tepi. Dengan keadaan hari yang gelap gulita, menambah ke-tak beruntungan Fandy untuk terus berenang menuju pinggiran. Dan malangnya, kecapaian yang dialaminya membuatnya lemas dan akhirnya tenggelam di danau bidadari itu.

Aku benar-benar menyesali kebodohan yang kulakukan malam itu. Mengapa aku tak mengantarnya malam itu? Mengapa sedikitpun tak ku mengerti akan arah pembicaraannya malam itu. Dan banyak pertanyaan lainnya yang sebenarnya tak kan kudapatkan jawabannya. Walaupun ku dapatkan jawaban itu, akan semakin membuat ku tampak bodoh akan semua kenyataan itu. Dan yang paling pahit adalah, semua itu tak akan dapat mengembalikan Fandy-ku, sahabatku itu.

***********

Tuesday, February 8, 2011

Sang pencinta...

Biarkan malam ini aku menangisimu sepuas hatiku.
Tak apalah karena esok aku bertekad untuk tidak lagi menangisimu.
Biarkanlah malam ini menjadi akhir dari penantianku padamu.
Biarkanlah malam ini menjadi awal untukku melangkah tanpa bayanganmu.
Biarkanlah malam ini aku hanya berjalan dengan bayanganku sendiri,
tak lagi mengharapkan kepastian darimu,
tak lagi berandai-andai untuk bersama denganmu.
Biarlah...

Biarkanlah air mata ini jatuh terakhir kalinya untukmu...
Selamat tinggal kenangan indah
Kenanglah ku selalu sebagai bagian dari kisahmu.
jadikanlah aku sebagai cerita dari sebuah episode terindah dalam hidupmu..

Mimpi itu, cerita itu, semua kan ku kemas rapih dalam peti terdalam di hatiku.
Ketahuilah, kunci itu telah ku serahkan padamu, namun maaf kalau kau tak kan dapat lagi membukanya seperti dulu

Selamat tinggal cinta... selamat tinggal cita...
Aku akan mencoba untuk berharap lagi dengan cerita lainnya...
semoga bahagia masih disisakan untukku.. setelah tak ada lagi KITA

Monday, February 7, 2011

surat untuk Sang Pemilik Hati

Wahai pemilik hati...
Jagalah selalu hati ini,
untuk senantiasa jatuh cinta padaMu..

Biarkan bibir ini selalu merayu atas kebesaranMu..
Biarkan telinga ini selalu medengarkan AsmaMu...

Wahai pemilik hati...
Biarkan perjalanan ini berlabuh di pangkuanMu...
Haribahkan tubuhku ke sisi terMulia bersama kekasih-kekasihMu..

Karena hanya itulah kebahagiaan terindah untuk hidup dan juga matiku...

Thursday, October 14, 2010

Izinkan Waktu mengantarmu

"Bukan hak wanita untuk mengutarakan perasaan hatinya (nembak.red) pada lawan jenisnya terlebih dahulu!" ucapan itu yang dilontarkan seorang teman kepadaku. Pada awalnya aku sama sekali tak setuju, mengapa harus ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan untuk mengutarakan perasaan hatinya pada seseorang. Bukankah itu terlalu tidak adil, toh perempuan juga mempunyai hak yang sama untuk itu. Aku dengan penuh emosi (hal yg kurasa setiap kali berdebat mengenai gender).

Perdebatan itu berlangsung cukup lama.. semua argumen dan sangkalan datang tak ada ujung. kamipun akhirnya debat kusir.. saling memegang pendapat masing-masing. Sampai akhirnya iapun berkata,
"Anggaplah aku kolot, tapi bagiku sendiri perempuan yang pertama kali mengutarakan perasaan hatinya padaku, membuatku berfikir dan menyayangkan perempuan itu. Bukan aku tidak senang, tapi karena aku berfikir, bukankah sebaiknya perempuan cukup menjelaskan rasa sukanya itu dengan tindakan-tindakan saja, seperti dia menanggapi maksud hati seorang lelaki untuk dekat dengannya. Tidak mesti seAgresif itu." kini nadanya sudah mulai merendah dari sebelumnya.

Aku terdiam... sebenarnya aku setuju dengan pendapatnya,,, bagaimanapun, sebagai wanita aku juga tidak akan sanggup untuk mengutarakan perasaanku pada lawan jenisku terlebih dahulu. Aku tidak akan berani untuk bersikap agresif.. tapi pendapatku mengatakan kalau siapapun yang terlebih dahulu mengutarakannya tidak salah dan sah-sah saja.

Aku hanya berfikir.. bagaimana kalau lelaki yang ku sukai tidak kunjung memberi kepastian akan sebuah hubungan?? apakah aku harus terus menunggu, hanya menunjukkan sikap bahwa aku juga menyukai dia?? tidak semua lelaki mempunyai keberanian yang sama untuk mengutarakan maksud hatinya... (itu menurutku)

Aku hanya berfikir lalu mengambil kesimpulan... BIARKANLAH DAN IZINKANLAH SANG WAKTU yang MENGANTARKANMU PADAKU...

(uhuuuiii.. sekedar sharing ya sob,,,)

DILEMA menyerangKU

sudah lama rasanya tidak lagi menulis di blogku ini... hemm, rindu juga,ingin bercerita panjang di sini,, tapi sanking banyaknya cerita yang tak sempat ku curahkan di sini, membuatku bingung untuk memulai cerita dai mana...

Baiklah, aku hanya ingin sekedar berbagi curahan hatiku akhir2 ini...
DILEMA, itu tema yg cocok untuk menggambarkan bagaimana suasana hatiku saat ini. Bagaimana tidak, akhirnya aku "harus" meninggalkan pekerjaan yang sudah setahun ini aku geluti. Alasannya, permintaan Bunda di kota asalku. Bunda yg kini hanya tinggal sendiri, memintaku untuk mencari pekerjaan di kampung halamanku. Bagaimana aku bisa menolak permintaan dari wanita yang sangat aku sayangi itu... Rasanya tak tega juga untuk membiarkan Bunda tinggal seorang diri, bagaimana jika beliau sakit atau ada hal2 lainnya. Aku benar-benar tidak dapat membayangkan jika Bunda harus sendirian mengurus dirinya dan rumah kami.

Akhirnya ku puruskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku sekarang ini. Dengan harapan akan mendapatkan rezeki yang InsyaAllah lebih bagus di kampung halaman nanti. Tapiiii, akhir2 ini aku menjadi semakain takut, bagaimana kalau aku tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim kerja di kampung halamanku. Aku yang terbiasa bekerja seperti "kuli" tak akan betah kalau harus bekerja di belakang meja, apalagi harus menjual titel 'sok idealis" ku untuk sebuah jabatan... haaaahhh, aku semakin bingung... rasanya terlalu sok untuk memilih2 pekerjaan yang akan ku masukkan lamaran, sedang orang tua meminta untuk aku mengikuti tes pegawai negeri atau perusahaan apapunlah yang sedang membuka lowongan.. aku benar2 tak bisa berfikir... untuk memilih rasanya tidak mungkin di zaman sekarang yang serba sulit mendapatkan pekerjaan, sedangkan aku ingin tetap mempertahankan prinsip kerjaku (seperti kerjaan sebelumnya)...

DILEMA.. itu yang sedang menimpaku... ayyyooolllaaahhh, apakah aku harus berkompromi dengan desakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang serba mahal ini?? Bagaimana aku harus meyakinkan diriku sendiri kalau ini sebuah pengecualian??? sepertinya tidak akan bisa bertahan lama...

DILEMA... DILEMA... DILEMA.... huuufffttt

Saturday, August 7, 2010

Seorang pemuda sedang brdiri di tepian bukit terjang
ia berdiri sambil menatap langit yang biru nan jauh. Pandangannya
menerawang seraya berbisik lirih "Tuhan,aku tak mau menjadi orang-orang yang mengAniaya
diri sendiri dan orang lain dengan kebahagiaan maupun kebahagiaan yang kau berikan"
lalu pria itu bersujud

Friday, August 6, 2010

Saturday, July 17, 2010

YANG TAK PERNAH BISA MENCINTAI MU

Baiknya kau melepas diri ku…
Yang tak pernah bisa mencintai Mu…
Seharusnya tak ku simpan iba ini…
Yang membuat mu terluka…

Alunan merdu suara ‘Ady’, Sang vokalis Naff Band bergema di ruang kamar kecilku. Lagu itu membuat perasaanku gelisah tak menentu. Aku teringat kembali semua peristiwa itu, Bagai sebuah proyektor yang memutar ulang semua peristiwa lalu. Jelas, semua masih jelas dalam ingatan ku, bagai baru terjadi kemarin.
“Ga… Tunggu, aku mau bicara sebentar sama kamu, penting… Please, tunggu aku.” Pinta cowok di belakang ku, setengah mengejar . Tapi tak sedikitpun niat ku untuk mengurangi kecepatan langkah kakiku, berusaha agar secepatnya bisa hilang dari hadapan cowok jangkung di belakangku itu.
Cowok itu adalah ‘Bowo’ Si Ketua OSIS di sekolah ku, dia pintar dan baik pada semua orang. Sudah satu bulan ini aku dan Bowo menjadi sepasang Romeo en Juliet atau yang bahasa kerennya ‘pacaran’.
Aku sangat sayang padanya, begitu juga sebaliknya. Tapi tidak untuk hari ini, Ya… tepatnya satu minggu terakhir ini. Aku merasa ada yang ganjil dengan hubungan kami sehingga aku selalu berusaha tidak menampakkan mukaku di hadapannya. Dan sangat jelas, sikapku ini membuatnya bingung.
“Ga…Tolong berhenti sebentar, aku janji sebentar saja setelah semuanya jelas.” Kata Bowo memohon, tapi aku tetap tidak memperdulikannya.
Begitulah yang terjadi setiap hari di sekolah, semua teman-temanku bingung melihat kami berdua.
“Ga, ada apa sih antara kamu dengan Bowo??” Tanya Ani sobatku bingung.
“Em… gak ada apa-apa kok, aku cuma malas aja ketemu dia.” Jawabku asal.
“Lho kok gitu, kenapa kamu nggak ngomong baik-baik sama dia, khan kasihan dia, kayak orang nagih hutang aja.” Kata Ani membujuk.
“Biarin ajalah Ni, kan nanti juga dia bosan sendiri. Lagian aku malas harus membicarakan masalah ini sekarang.” Elakku, seraya pergi meninggalkan Ani dengan rasa penasarannya.
Tak cuma Ani saja yang menanyakan hal itu, tetapi hampir semua teman di kelasku menanyakan hal yang sama. Dan sampai akhirnya aku merasa bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
“Udah deh kalian nggak usah ikut campur dengan urusanku, aku tau apa yang aku lakukan.” Jawabku ketus sangking kesalnya. Dan akhirnya teman-temanku tahu kalau aku sedang tidak mau diganggu.

Satu minggu telah berlalu, tapi Bowo tak sedikitpun menyerah untuk menjumpai dan meminta penjelasan atas sikapku selama ini. Aku sendiri heran dan salut dengan sikapnya itu. Aku semakin bosan dan akhirnya mengambil keputusan akan membicarakan dan menyelesaikan semuanya
“Biar tenang!!” Batinku dalam hati.
Dan keesokan harinya sepulang sekolah, aku langsung menuju ke kelas Bowo untuk menemuinya. Dia kaget sekali ketika melihat aku berdiri di depan kelasnya. Dia tersenyum manis kearah ku.
“Ga, aku yakin kalau pada akhirnya kamu mau menjelaskan semua yang terjadi. Aku benar-benar nggak mengerti kenapam kamu bersikap aneh, seakan kamu menghindar setiap kali berjumpa denganku.” Tanya Bowo bingung.
“Em… maaf Wo, akhir-akhir ini aku sibuk, ada masalah di rumah.” Ujarku berbohong.
“Ga, kalau ada masalah kenapa tidak membicarakannya padaku. Aku siap dan dengan senang hati menampung masalahmu.” Tawar Bowo tulus.
“Maaf Wo, aku nggak bisa menceritakan masalahku ini pada kamu, tapi sudahlah, sekarang kamu mau ngga nemanin aku ke kantin, ada yang ingin aku bicarakan ke kamu.” Ajak ku ragu. Ku lihat raut muka Bowo berubah jadi bingung, tapi ia tetap mengikuti ku juga.
Sesampainya di kantin aku sengaja mengambil meja yang terletak di sudut dan sunyi. Suasana siang itu memang agak sepi, maklum jam pulang sekolah !!
“Em Wo, Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan. Hal ini yang selalu membuatku resah dan dihantui rasa bersalah.” Kataku memulai percakapan dengan mengumpulkan keberanian penuh.
“Tentang apa Ga??” Tanya Bowo bingung, membuat aku ragu untuk menyampaikan semuanya. Tatapan itu meluluhkan hatiku, membuat aku iba seakan ia memohon pada ku.
“Tapi harus…Aku harus bisa” Tekat ku dalam hati, “Wo, terus terang aku sayang sekali sama kamu...” Aku sengaja menggantungkan kata- kataku, menunggu reaksinya. Sejenak aku diam, kembali menyusun kata-kata seindah mungkin agar ia tidak tersinggung.
“Tapi… jujur ku katakan, aku… Aku tak pernah bisa mencintaimu.” Kata-kataku keluar dengan sendirinya membuat aku sendiri tak percaya sanggup mengucapkannya. Sungguh... ini di luar kesadaranku.
Teggg… terdengar suara benda keras beradu, ternyata sendok yang Bowo pegang untuk makan bakso tadi terlepas dari genggamannya karena kaget. Aku tahu suaraku yang seperti angin itu terdengar seperti petir di telinga Bowo.
“A… Apa Ga. Apakah aku salah dengar tadi??” Tanya Bowo setengah berharap bahwa apa yang barusan didengarnya adalah salah.
“Tidak Wo, kamu ngga salah dengar dan aku ngga salah mengatakannya, itulah yang sebenarnya terjadi, Wo.” ujarku lirih. Sungguh tak sanggup aku menatapnya, sekarang aku hanya tertunduk tak berdaya.
“Ega… Kamu cuma bercanda kan? Kenapa kamu Ga, apa maksud semua ini, apa salah ku Ga?? Tolong… tolong kamu jelaskan semua ini !!” Bowo benar- benar tidak mengerti, dan ia butuh sekali penjelasan dari Ega, sekarang.
“Maafkan aku Wo, semua ini ku lakukan demi kebaikan kita berdua. Aku sudah tak ingin membohongi kamu lagi.” Terang ku.
“Maksud kamu apa, Ga?? Kamu membohongi aku?” Tanya Bowo masih tidak mengerti.
“Wo, sebenarnya aku menerimamu dulu karena aku tidak ingin melihatmu terluka. Kamu terlalu baik, Wo. Awalnya aku berfikir, suatu saat dengan selalu bersamamu aku akan belajar dan dapat mencintaimu. Tapi aku salah Wo, semakin lama aku bersama mu, perasaanku semakin merasa bersalah. Aku bukan saja telah membohongi dirimu tapi juga membohongi diriku sendiri.” Kataku lagi.
“Aku nggak nyangka Ga, kamu tega berbuat itu pada ku. Kamu tahukan kalau aku amat mencintaimu. Jadi selama ini kamu hanya bersandiwara mencintaiku??”
“Tidak Wo, aku tidak pernah bermaksud melukai mu. Aku benar-benar ngga ingin mengecewakanmu.” Kata ku membela diri.
“Hah… jadi kamu menganggap kalau ini adalah yang terbaik bagi diriku, Ga?? Nggak, Kamu salah besar Ga, dengan cara seperti ini aku sangat dan semakin kecewa.” Kata Bowo ketus. Dia benar-benar marah padaku. Dia berlari meninggalkan aku yang sedang berperang dengan perasaanku sendiri. Aku hanya dapat menatap kepergiannya hingga tubuhnya menjauh dan menghilang di tikungan lorong sekolah.
Aku tersenyum, senyum yang sangat pahit dan pedih, senyum yang ku persembahkan untuk kelukaan hati ku sendiri.
“It’s over. Semua sudah berakhir dan kini kau tahu semua yang sebenarnya, semua perasaanku pada mu. Maafkan aku, Wo.” Ujarku lemah.
Aku berjalan lunglai meninggalkan kantin, membawa setumpuk perasaan bersalah dan berdosa. Aku sadar kalau aku telah melukai Bowo, orang yang amat mencintai aku.

Aku tersadar dari lamunan panjangku. Masih terdengar nyanyian merdu Naff yang ternyata masih mengalun lembut di ruang kamar ku…
Maafkan lah… Diri ku…
Yang telah melukai perasaan Mu…
Maafkan lah… Salah ku…
Semoga kau dapat memaafkan Ku…


Maafkan aku karena telah lama tak mengunjungimu,
Bukan aku lupa padamu, bukan pula aku mengabaikanmu...
Aku hanya tak mampu berjalan menuju tempat terakhirmu,
Menatap ke arah pusaramu dan merasakan perih karena tak dapat menatapmu..
Mengingat aku tak sempat bertemu denganmu,
Semua itu membuat langkah kakiku menjadi kaku...

Maafkan aku karena telah lama tak mengunjungimu
Bukan aku tak ingat padamu, disini aku selalu mendoakanmu
Betapapun sedihnya aku, aku tau semua takkan bisa terulang
Waktu ini hanya dapat ku gunakan untuk meminta maafmu
dan mengirimkan sepenggal kenangan bersamamu

Maafkan aku karena telah lama tak mengunjungimu...
Alfatihah...

Semoga Kau Adalah Jawaban dari Doa-DoaKu

Memang kau bukan yang pertama ada di dalam hatiku...
Aku tau, telah ada seseorang yang mengisi dan meninggalkan kekosongan dalam jiwa ini...
Aku berdoa, agar Tuhan mau mengirimkan seseorang yang membawa semua kesedihan dan kekosongan ini... aku berdoa, agar Tuhan sedikit saja memberikan kepercayaan akan ada seseorang yang menjagaku dari kesedihan ini...

Yah, kau datang... membantuku menyusun semua luka-luka ini..
Kau datang, mengulurkan tanganmu untuk membantuku berdiri...
dan meminjamkan bahumu untuk tempatku bersandar ketika lelah akan semua kesedihan ini..

Aku belum bahagia... tapi aku yakinkan kalau aku Bersyukur akan adanya dirimu...
Kau mungkin jawaban atas semua doa-doa yang kupanjatkan...
Penyembuh luka yang entah seberapa lebarnya terkoyak...
Kau memang bukan yang pertama hadir di hatiku,, tapi semoga kau menjadi yang terakhir yang memegang kunci hatiku..

Semoga Kau adalah Jawaban dari Doa-Doaku... amiiiinnn...

Thursday, July 15, 2010

IKHLAS....

Ternyata untuk urusan ikhlas itu sangat berat ya... kadang menurut kita sudah ikhlas, namun hati masih saja memikirkannya, masih merasa ada yang nggak enak, atau masih ada yang mengganjal dalam benak.

Belajar ikhlas itu perlu sebuah kesabaran. Dengan sabar, kita bisa menelaah semua hal yang dialami. Mencari sebuah benang merah sebagai alasan dibalik semua kejadia. Dan untuk sabar pun merupakan satu hal yang sangar berat. Bertahan untuk memikirkan sesuatu yang baik dalam setiap kejadian yang buruk adalah hal yang paling menyiksa. Bukan perkara gampang.. tak segampang kelihatannya apalagi sekedar ucapan.

Sabar untuk menuju ikhlas, itulah yang sedang kupelajari. Sebuah harapan agar menjadi orang yang ikhlas dalam setiap musibah yang dihadapi. Namun tetap saja rasanya suloit. Tetap saja ada pertanyaan "Mengapa begini? mengapa tidak begitu?" selalu saja ada pertentangan dalam diri, tidak bisa menerima apa yang Allah SWT telah tetapkan pada kita.

Ya Allah... sungguh indah dan tentram jika menjadi seorang yang dapat ikhlas.. subhanaallah.. semoga aku bisa menjadi hambaMu yang selalu ikhlas dan bersabar...amiiinnn.

Monday, July 12, 2010

Ku yakini ini semua ada hikmahnya

Hari ini lagi-lagi tidak sesuai dengan apa yang kurencanakan. Padahal sudah kuperjuangkan dengan sekuat tenaga, namun apa mau dikata, bulan ini bukan bulan terbaikku.

Rasanya sedih sekali, ketika sebuah harapan itu pupus tanpa belas kasih, semua usaha tampak tak berarti lagi kini. Goyah, semua perasaan dan fikiran tak lagi berhubungan dengan baik. Ada ruang di dalam perasaan dan fikiranku kini. Melayang.. rasanya seperti itu.

Namun, semua ini aku yakini akan ada hikmah dibaliknya. Aku sangat yakin kalau Allah SWT tidak akan memutuskan apapun tanpa sebuah kebaikan untuk umatnya. Aku yakin, ini yang terbaik yang tuhan pilihkan untukku. Aku hanya perlu lebih bersabar lagi. Berdoa... itu yang harus terus ku perbanyak. Yaaahhh, ketika semua usaha itu telah dengan sepenuh hati dan belum berhasil, maka hanya doa dan harapan yang mampu menemani dalam penantian itu...

Allah sayang padaku, aku yakin itu..
Allah lebih tau apa yang terbaik untukku, saat ini, besok dan seterusnya..
Allah telah mengatur semuanya untukku, hanya kesabaran dan tetap istiqomah, aku yakin hadiah indah itu akan datang. Bukan hanya hadiah untukku sendiri, namun untuk semua orang disekitarku..

AKU YAKIN ITU.. semoga hati ini tetap IKHLAS menerima keputusan ini..amiinn...

AKU YAKIN ADA KEMUDAHAN DIBALIK KESUSAHAN INI, DAN TAK AKAN ADA KESUSAHAN TANPA ADA KEMUDAHAN DI SANA...

Sunday, April 25, 2010

Mengapa Dunia - Ku - Tak Lagi Ramah?

Ada sekumpulan awan mendung yang selalu menyelimuti dunia-ku- kini, setiap kali ku memandang wajah-wajah yang tak lagi tersenyum. Aku tak lagi merasa bahagia berada di sekitar mereka, tak lagi merasa aman, wajah-wajah itu seolah berubah menjadi sosok yang sangat tidak menyenangkan, seolah menyerap semua kegembiraan dan ketenangan yang ku miliki.

Ada sekumpulan awan hitam yang kini menyelimuti dunia-ku-, ketika murka dan kemarahan, dianggap, adalah jalan keluat terbaik untuk menyelesaikan masalah. Wajah-wajah yang dulu ramah, kini tak lagi tampak seperti itu. Seolah topeng mereka semua tergantikan dengan paras kecam dan beringas. Anarkis, menjadi sebuah budaya yang kini diajarkan, bahkan yang paling miris adalah bukan dilakukan wajah yang tak berpendidikan, sebaliknya, wajah yang menyebut diri mereka sebagai kaum intelek-lah yang lebih anarkis.

Menyedihkan... bukan..bukan... tragis atau ironis yang dapat menggambarkan dunia-ku-kini?
Mengapa dunia-ku- tak lagi ramah?
Kemana perginya rasa cinta itu?
kemana perginya rasa menyayangi itu?
dan kemanakah perginya rasa persatuan itu?

Apakah memang sudah tidak ada lagi cinta di sini, ketika ku lihat wajah-wajah itu. Mengapa rasa yang dulu pernah ada untuk menyatukan Bangsa ini seolah lenyap begitu saja. Keinginan untuk merusak dan menyakiti lebih besar dari keinginan untuk menjaga dan melindungi...

Mengapa dunia-ku- tak lagi ramah?
Apa yang harus aku ceritakan pada generasiku kelak, ketika wajah-wajah itu telah berganti dengan wajah-wajah baru yang ingin tau sejarah dunia-ku?
Apa yang harus ku banggakan, jika semua cinta dan kasih sayang itu bukan lagi sesuatu yang dirasakan?

"Terkadang kita HANYA merasa kalau kitalah yang sedang MEMPERJUANGKAN sesuatu, dengan bangganya kita mengaku sebagai tangan TUHAN panyampai asa RAKYAT, dan dengan "gagahnya" kita mengucapkan KEADILAN dan MORAL, NAMUN kita tak pernah sadar kalau SEBANARNYA kitalah yang MERUSAK PERJUANGAN itu, MENGOTORI KESUCIAN dari sebuah pengorbanan dari perjuangan itu... Selalu ada yang menjadi korban dari KEEGOISAN yang tak pernah kita sadari,,, HINGGA pada AKHIRNYA, anak-anak dan cucu-cucu Kita kelak lah yang akan merasakannya.. KETIKA SAAT ITU TIBA,, SUDAH TAK ADA LAGI YANG DAPAT KITA BANGGAKAN DARI PERJUANGAN ITU"

Mengapa Dunia-ku- Tak Lagi Ramah?

(Bandung, "KeprihatinanKu atas wajah-wajah yang tak lagi tersenyum")

Saturday, February 20, 2010

Rindu Kampung Halamanku.. (AKU INGIN PULANG!!!)

Malam minggu, seperti biasa di kostan,,, menghabiskan waktu di depan laptop dan menyususri dunia maya...
Walau hanya sekedar menge-check email, berJejaring sosial, mulai dari Facebook sampai Tagged, melihat teman2 lama atau teman2 baru yang masuk. Tiba-tiba saja jantungku dag-dig-gug.. duh ada apa ini??? ngga tau kenapa perasaan langsung berubah drastis. Ada sesuatu yang hampa.. aku merasa RINDU... INGIN PULANG.
Dumai, si kota minyak itu benar-benar membuatku SAKIT. Lebih tepatnya HOMESICK... benar-benar kerinduan ini tak terbendung lagi. Entah apa yang membuatku ingin pulang ke sana.... Tapi yang jelas aku merindukan kota-ku yang panas dan berdebu itu. Suasana yang sangat lekat dengan memoriku, dan semua kenangan indah yang terjadi di sana. Aku INGIN PULANG... otak ku hanya menyuarakan itu dan itu lagi... Bunda,, adik,, teman-teman,, aku benar2 merindukan kalian..

Semoga saja keinginan ini secepatnya terwujudkan.. Kembali pulang ke Kampung Halaman adalah sesuatu yang pastinya membahagiakan... AKU RINDU KAMPUNG HALAMAN KU...

--- LOVE DUMAI ---

Monday, February 15, 2010

Malam ini, entah mengapa ada yang lain yang hadir di hatiku. Perasaan yang telah lama alpa dari hatiku, seolah hadir mengisi kekosongan di sana. Bahagia, itu lah yang kurasakan. Kebahagiaan yang lain, yang jarang sekali ku rasakan beberapa tahun ini. Aku seolah menemukan sisi mata uangku yang lain. Aku menemukan DIA, DIA yang telah lama tidak menyapaku, untuk sekedar menyentuh hatiku, membuatku tersenyum, tersipu sekaligus terbang.

Malam ini, hanya dengan sebuah candaan konyol dan ngga jelas, tapi sangat berarti bagiku. Ada sesuatu yang lain dari pembicaraan kami malam ini. Dia yang telah lama hilang dan hanya ada dalam sebuah kotak dalam hatiku yang paling dalam, kini seakan perlahan-lahan muncul ke permukaan, mengapung di dasar jiwa-jiwa memercikkan bahagia ketika disentuh. Rasanya sudah cukup jika hanya sekedar bercerita dengannya tentang sesuatu yang ngga penting, saling menggoda dengan ejekan yang sengaja diciptakan hanya untuk fun semata. Aku bisa merasakan detakan jantungku yang berpacu dengan aliran darahku, memercikkan keriangan, hingga sunggingan bibirku tak henti-hentinya tersenyum. Aku benar-benar kepayang, apalagi Dia, orang yang selama ini hanya dapat ku pandangi fotonya, orang yang sempat kuinginkan untuk bersama, walau akhirnya semua itu kembali lagi hanya menjadi sebuah "keinginan", dan tampaknya cukup hanya akan menjadi keinginan.

Entah mengapa malam ini aku memberanikan diri meminta (berdoa) kepada Tuhan, untuk menyampaikan perasaanku pada, walau hanya lewat angin. Aku meminta agar Dia bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku benar-benar kepayang, sesuatu yang tak pernah ku rasakan beberapa tahun terakhir ini. Perasaan senang, takut, sekaligus pesimis, yah... itulah perasaan yang membuatku mabuk kepayang. Rasanya ada sebuah tantangan untuk memikirkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya kepadaku. Aku hanya bermain dengan fikiranku sendiri, berandai-anadi, seumpama dia begini... andaikan dia begitu.. dan semua andai-andai lainnya.

Tapi tampaknya ketakutanku akan segera membangunkanku dari mimpi indah ini, dari perasaan semu ini. Ketekutanku akan segera menuntunku ke jalan kenyataan, bahwa aku tak perlu terlalu berharap dengan semua perasaan itu ataupun bagaimana perasaannya padaku. Ketakutanku yang akan kembali memenjarakan DIA yang sudah lama tersimpan dipeti itu, dan entah kapan akan dapat dibuka kembali.

Yah... malam ini, HANYA malam ini aku BERANI sedikit BERMIMPI, seandainya kami dipertemukan dan dipersatukan. Membiarkan diriku terlena dengan manis semua perasaan ini, tanpa memikirkan sakitnya..
ya... HANYA MALAM INI.

Tuesday, February 9, 2010

Dosa-Dosa Media Massa

Berawal dari mendapatkan sebuah email berantai dari seorang teman, yang berjudul "Bagaimana Merekonstruksi Masa Depan Bangsa Ini?". Berisikan bagaimana tantangan yang dihadapi Sumber Daya Manusia kita semakin mengkhawatirkan saja. Khususnya dalam konteks mempersiapkan generasi masa depan. Mengutip isi pesan tersebut "generasi muda kita dinina bobokan oleh buaian hura-hura secara membabi buta."
Membaca isi pesan tersebut, saya kembali mengingat sebuah pertanyaan yang pernah terlintas di fikiran saya. Pertanyaan yang tak sempat mendapat jawaban atau pun penjelasan selanjutnya, pertanyaan yang saya biarkan seiring dengan "rasa tak perduli" dari orang-orang yang seharusnya peduli. Saya memikirkan, sesungguhnya betapa berat peran sebuah media massa di negara ini. Tak hanya sebagai penyampai informasi belaka, namun -harusnya- lebih dari itu, 'MEMBELAJARKAN MASYARAKAT", dimana masyarakat belajar melalui media (apapun) yang dilihatnya.
Namun melihat kenyataannya, tampaknya media kita harus lebih banyak berkaca dan berbenah diri. Sistem kapitalis atau lebih mencari untung sebesar-besarnya, atau sekedar siapa yang banyak ditonton masayarakat, benar-benar menambah buruk keadaan negara ini.Tidak menyalahkan untuk mengambil untung sebesar-besarnya (sah-sah saja pastinya), namun harus didukung pula dengan hakekat mengapa media massa itu harus ada, yaitu hakekat dasar sebagai membelajarkan masyarakat.
Sesungguhnya, bukankah menciptakan masyarakat (khususnya generasi NOTHING) adalah dosa sebuah media massa. Betapa-sebenarnya- dosa itu harus dipikul sampai akhirnya menghancurkan sebuah negara. Betapa riskan, setiap hari media massa menyuguhkan informasi yang sedikit sekali nilai edukatif. Kebanyakan adalah yang bersifat "ngga masuk akal" dan lebih parahnya "membodohi" masyarakat. Massa di'cekoki' dengan isu-isu yang belum jelas kebenarannya, seolah ingin membentuk opini publik, media massa malah me'mineset' setiap pikiran masyarakatnya dengan ketidak adilan dan ketidak bahagiaan, dan dengan seEnaknya mengatas namakan REALITA.
Infotainment menambah buruk situasi, dengan gosip-gosip ngga penting tentang seorang artis, yang entah apalah hubungannya dengan masyarakat (dalihnya sih untuk konsumsi fans, dan fans harus tau). WHAT??? lalu dimana letak PRIVASI sebagai manusia, kalau semua harus di"telanjangi" sampai ke akar-akarnya. Tentang pernikahan si ini, perceraian si itu, si dia yang hamil di luar nikah... oh my GOD, betapa ironinya semua ini. Bagaimana semua itu akan mencadi cerminan masyarakat negara ini, remaja-remaja zaman ini. Lucunya lagi, bermunculan bak jamur di musim hujan,plagiat-plagiat televisi. Tidak di sinetron, pun di acara-acar kuis atau acara realita. Benar-benar ngga kreatif, menjiplak-plak-plak ide film-film terkenal, acara-acara terkenal di luar negeri, lalu merubah adegan/dialoh atau mengganti nama acara/judulnya saja. Tapi dari semua itu yang paling TRAGIS, semua itu diLEGALKAN dan disiarkan oleh stasiun televisi swasta terkemuka yang HARUSNYA PINTAR dan TAHU kalu itu adalah sebuah penjiplakan.
Tak cukup dengan itu, dunia FILM pun ketularan dengan menampilkan cerita-cerita ngga masuk akal dan lebih tepatnya "sampah" belaka. Mulai dari kehidupan remaja jaman sekarang (yang katanya begitulah keadaannya di masyarakat). Bukankah kalau memang kenyataannya seperti itu hendaknya diberi nilai pembelajaran untuk memperbaiki bukan malah hanya menjual cerita di masyarakat dan menjadi pelajaran tidak baik di kalangan remaja sendiri. Adalagi cerita-cerita HOROR yang katanya diangkat dari urban legend (yang entak berasal dari mana). Yang anehnya pada genre ini, adegan yang dipertontonkan tidak ada kaitannya dengan cerita yang ditawarkan. Adegan2 fulgar dan berani, lebih banyak ditampilkan. JADI sebenarnya para sineas itu berimajinasi HOROR atau PORNO? Masyarakat (khususnya kaum remaja) berbondong-bondong mengantri tiket, membayar dengan mahal untuks ebuah film yang sama sekali tidak mendidik (bukankah itu sama saja dengan MERAMPOK secara TERANG-TERANGAN,ya??)
Dan kini mulai pula dengan persaingan dunia penyiaran berita (News). Bagai ajang IDOL, semua berlomba menjadi siapa yang paling lengkap atau "deep investigation" dalam mengangkat sebuah kasus di negara ini. Tak jarang malah "menghalalkan" HIPORBOLA a.k.a LEBAY dalam penyampaiannya. Semua itu hanya demi satu tujuan yaitu KEUNTUNGAN dan RATTING teratas di kategorinya. Tak ada lagi yang namanya news media yang tak berpihak, yang menyampaikan kebenaran sesungguhnya tanpa harus MENGHAKIMI pihak manapun, media yang seharusnya memberi PILIHAN pada penonton untuk memberi KESIMPULAN, bukan MENGAJAK BERKESIMPULAN SAMA.
LUCU, tapi tak dapat tertawa. Itulah yang saya rasakan ketika membaca email yang saya dapatkan itu. Lucu karena "mereka" semua menjadi badut tontonan yang "berusaha" menghibur masyarakat. Namun sayang, semua hiburan itu tidak dapat saya nikmati karena dibalik itu semua, ada yang telah dikorbankan yaitu GENERASI MUDA yang kelak akan mamikul beban negara ini.
Dari semua itu, pertanyaan yang muncul kembali adalah "Apakah "mereka" (media massa,red) tahu akan dosa yang telah mereka lakukan itu, atau mereka tahu tapi bersikap tidak mau tahu??" Memang sih "katanya" masyarakat cukup pintar untuk memilih dan mencerna informasi dari media massa, tapi teori memang bagai sebuah sisi mata uang yang berbeda, kenyataannya tidaklah demikian. Ternyata masyarakat lebih pintar untuk LEBIH MEMILIH DIRACUNI dengan informasi dan tayangan yang ngga penting..
Oh...Oh..Oh... Akhirnya dosa-dosa media massa pun berubah menjadi WABAH yang harus ditanggung bersama.

(Dhiena "aku peduli maka aku bersuara!", Februari'10)

Saturday, January 23, 2010

"apa yang kau cari di dunia ini?"

Sebuah pertanyaan yang singkat. "klasik" itulah yang pertama kali muncul ketika pertanyaan itu muncul di sela-sela obrolan hangat kita. Tapi, yang menarik, tak banyak orang yang mampu menjawab pertanyaan "singkat" dan "klasik" itu. Ya... tak banyak orang yang benar-benar tau, apa yang ingin di carinya di dunia ini.

Ketika pertanyaan itu hadir pagi ini, di sebuah obrolanku bersama sahabat lama, aku pun tak mampu menjawabnya. "Apa yang kau cari di dunia ini?" begitu katanya. Aku terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa yang paling tepat untuk pertanyaan itu. TAK ADA, aku tak menemukan jawaban apapun untuk pertanyaan itu. Aku tersenyum, miris.. betapa seringnya aku dengar pertanyaan itu, tapi masih tak kutemukan jg jawaban atas pertanyaan itu.


Temanku berkata lagi, "itulah yang aku rasakan sekarang. aku selalu mempertanyakan itu. Dan aku tak bisa menjawabnya,"
"Aku pun begitu, sob" ujarku dalam hati.

Tapi setelah ku pikirlan lagi, aku menyadari ada sesuatu yang sangat aku inginkan di dunia ini. Aku mencari sebuah ketenangan. Ketenangan yang pastinya akan mendatangkan kebahagiaan.
"Bagaimana cara untuk mendapatkan ketenangan itu?" tanyanya lagi.
"Aku mendapatkannya dengan sebuah kePERCAYAan. aku hanya harus percaya kalau diriku bisa memperoleh ketenangan itu.

Tampaknya terlalu mudah jika hanya mengucapkannya saja, namun itulah yang selama ini sedang aku pelajari dan terus aku usahakan. Memang sangat tidak mudah untuk mendapatkan ketenangan seperti gambaran ki itu, namun aku yakin, jika aku mampu mendapatkannya. Aku hanya harus terus mencarinya.

Mungkin pertanyaan itu hadir bukan tidak ada sebabnya, pertanyaan yang simpel itu hadir ketika jiwa kita haus akan sebuah pertanyaan, lelah akan sebuah perjalanan yang tanpa tujuan atau karena sebenarnya kita lupa akan tujuan kita hidup di dunia ini. Melupakan Tuhannya, melupakan Sang penciptanya,melupakan Allah swt. Kadang kita terlalu terlena dengan ritme kehidupan yang kita jalani. Kita lupa mensyukuri, kita lupa berbagi, kita lupa untuk lebih mengingatnya, hingga kita lupa pada diri kita sendiri dan tujuan kita di dunia...

Bermula dari sebuah pertanyaan singkat dan klasik, aku kembali teringat betapa aku masih harus mencari apa yang kuUcapkan tadi. Aku pun tak mau hanya sekedar berucap, aku tak mau menjadi munafik...

Yang kubutuhkan hanya PERCAYA kalau RAKHMAT dan RIDHO ALLAH SWT lah yang sebenarnya kita cari. Karena tak ada alasan apapun ketika Allah menciptakan manusia di bumi, melainkan untuk selalu memuji dan beriman kepadaNya.

Semoga pertanyaan "Apa yang kau cari di dunia ini?", akan segera kuwujudkan jawabannya.