Wahai pemilik hati...
Jagalah selalu hati ini,
untuk senantiasa jatuh cinta padaMu..
Biarkan bibir ini selalu merayu atas kebesaranMu..
Biarkan telinga ini selalu medengarkan AsmaMu...
Wahai pemilik hati...
Biarkan perjalanan ini berlabuh di pangkuanMu...
Haribahkan tubuhku ke sisi terMulia bersama kekasih-kekasihMu..
Karena hanya itulah kebahagiaan terindah untuk hidup dan juga matiku...
Monday, February 7, 2011
Thursday, October 14, 2010
Izinkan Waktu mengantarmu
"Bukan hak wanita untuk mengutarakan perasaan hatinya (nembak.red) pada lawan jenisnya terlebih dahulu!" ucapan itu yang dilontarkan seorang teman kepadaku. Pada awalnya aku sama sekali tak setuju, mengapa harus ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan untuk mengutarakan perasaan hatinya pada seseorang. Bukankah itu terlalu tidak adil, toh perempuan juga mempunyai hak yang sama untuk itu. Aku dengan penuh emosi (hal yg kurasa setiap kali berdebat mengenai gender).
Perdebatan itu berlangsung cukup lama.. semua argumen dan sangkalan datang tak ada ujung. kamipun akhirnya debat kusir.. saling memegang pendapat masing-masing. Sampai akhirnya iapun berkata,
"Anggaplah aku kolot, tapi bagiku sendiri perempuan yang pertama kali mengutarakan perasaan hatinya padaku, membuatku berfikir dan menyayangkan perempuan itu. Bukan aku tidak senang, tapi karena aku berfikir, bukankah sebaiknya perempuan cukup menjelaskan rasa sukanya itu dengan tindakan-tindakan saja, seperti dia menanggapi maksud hati seorang lelaki untuk dekat dengannya. Tidak mesti seAgresif itu." kini nadanya sudah mulai merendah dari sebelumnya.
Aku terdiam... sebenarnya aku setuju dengan pendapatnya,,, bagaimanapun, sebagai wanita aku juga tidak akan sanggup untuk mengutarakan perasaanku pada lawan jenisku terlebih dahulu. Aku tidak akan berani untuk bersikap agresif.. tapi pendapatku mengatakan kalau siapapun yang terlebih dahulu mengutarakannya tidak salah dan sah-sah saja.
Aku hanya berfikir.. bagaimana kalau lelaki yang ku sukai tidak kunjung memberi kepastian akan sebuah hubungan?? apakah aku harus terus menunggu, hanya menunjukkan sikap bahwa aku juga menyukai dia?? tidak semua lelaki mempunyai keberanian yang sama untuk mengutarakan maksud hatinya... (itu menurutku)
Aku hanya berfikir lalu mengambil kesimpulan... BIARKANLAH DAN IZINKANLAH SANG WAKTU yang MENGANTARKANMU PADAKU...
(uhuuuiii.. sekedar sharing ya sob,,,)
Perdebatan itu berlangsung cukup lama.. semua argumen dan sangkalan datang tak ada ujung. kamipun akhirnya debat kusir.. saling memegang pendapat masing-masing. Sampai akhirnya iapun berkata,
"Anggaplah aku kolot, tapi bagiku sendiri perempuan yang pertama kali mengutarakan perasaan hatinya padaku, membuatku berfikir dan menyayangkan perempuan itu. Bukan aku tidak senang, tapi karena aku berfikir, bukankah sebaiknya perempuan cukup menjelaskan rasa sukanya itu dengan tindakan-tindakan saja, seperti dia menanggapi maksud hati seorang lelaki untuk dekat dengannya. Tidak mesti seAgresif itu." kini nadanya sudah mulai merendah dari sebelumnya.
Aku terdiam... sebenarnya aku setuju dengan pendapatnya,,, bagaimanapun, sebagai wanita aku juga tidak akan sanggup untuk mengutarakan perasaanku pada lawan jenisku terlebih dahulu. Aku tidak akan berani untuk bersikap agresif.. tapi pendapatku mengatakan kalau siapapun yang terlebih dahulu mengutarakannya tidak salah dan sah-sah saja.
Aku hanya berfikir.. bagaimana kalau lelaki yang ku sukai tidak kunjung memberi kepastian akan sebuah hubungan?? apakah aku harus terus menunggu, hanya menunjukkan sikap bahwa aku juga menyukai dia?? tidak semua lelaki mempunyai keberanian yang sama untuk mengutarakan maksud hatinya... (itu menurutku)
Aku hanya berfikir lalu mengambil kesimpulan... BIARKANLAH DAN IZINKANLAH SANG WAKTU yang MENGANTARKANMU PADAKU...
(uhuuuiii.. sekedar sharing ya sob,,,)
DILEMA menyerangKU
sudah lama rasanya tidak lagi menulis di blogku ini... hemm, rindu juga,ingin bercerita panjang di sini,, tapi sanking banyaknya cerita yang tak sempat ku curahkan di sini, membuatku bingung untuk memulai cerita dai mana...
Baiklah, aku hanya ingin sekedar berbagi curahan hatiku akhir2 ini...
DILEMA, itu tema yg cocok untuk menggambarkan bagaimana suasana hatiku saat ini. Bagaimana tidak, akhirnya aku "harus" meninggalkan pekerjaan yang sudah setahun ini aku geluti. Alasannya, permintaan Bunda di kota asalku. Bunda yg kini hanya tinggal sendiri, memintaku untuk mencari pekerjaan di kampung halamanku. Bagaimana aku bisa menolak permintaan dari wanita yang sangat aku sayangi itu... Rasanya tak tega juga untuk membiarkan Bunda tinggal seorang diri, bagaimana jika beliau sakit atau ada hal2 lainnya. Aku benar-benar tidak dapat membayangkan jika Bunda harus sendirian mengurus dirinya dan rumah kami.
Akhirnya ku puruskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku sekarang ini. Dengan harapan akan mendapatkan rezeki yang InsyaAllah lebih bagus di kampung halaman nanti. Tapiiii, akhir2 ini aku menjadi semakain takut, bagaimana kalau aku tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim kerja di kampung halamanku. Aku yang terbiasa bekerja seperti "kuli" tak akan betah kalau harus bekerja di belakang meja, apalagi harus menjual titel 'sok idealis" ku untuk sebuah jabatan... haaaahhh, aku semakin bingung... rasanya terlalu sok untuk memilih2 pekerjaan yang akan ku masukkan lamaran, sedang orang tua meminta untuk aku mengikuti tes pegawai negeri atau perusahaan apapunlah yang sedang membuka lowongan.. aku benar2 tak bisa berfikir... untuk memilih rasanya tidak mungkin di zaman sekarang yang serba sulit mendapatkan pekerjaan, sedangkan aku ingin tetap mempertahankan prinsip kerjaku (seperti kerjaan sebelumnya)...
DILEMA.. itu yang sedang menimpaku... ayyyooolllaaahhh, apakah aku harus berkompromi dengan desakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang serba mahal ini?? Bagaimana aku harus meyakinkan diriku sendiri kalau ini sebuah pengecualian??? sepertinya tidak akan bisa bertahan lama...
DILEMA... DILEMA... DILEMA.... huuufffttt
Baiklah, aku hanya ingin sekedar berbagi curahan hatiku akhir2 ini...
DILEMA, itu tema yg cocok untuk menggambarkan bagaimana suasana hatiku saat ini. Bagaimana tidak, akhirnya aku "harus" meninggalkan pekerjaan yang sudah setahun ini aku geluti. Alasannya, permintaan Bunda di kota asalku. Bunda yg kini hanya tinggal sendiri, memintaku untuk mencari pekerjaan di kampung halamanku. Bagaimana aku bisa menolak permintaan dari wanita yang sangat aku sayangi itu... Rasanya tak tega juga untuk membiarkan Bunda tinggal seorang diri, bagaimana jika beliau sakit atau ada hal2 lainnya. Aku benar-benar tidak dapat membayangkan jika Bunda harus sendirian mengurus dirinya dan rumah kami.
Akhirnya ku puruskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku sekarang ini. Dengan harapan akan mendapatkan rezeki yang InsyaAllah lebih bagus di kampung halaman nanti. Tapiiii, akhir2 ini aku menjadi semakain takut, bagaimana kalau aku tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim kerja di kampung halamanku. Aku yang terbiasa bekerja seperti "kuli" tak akan betah kalau harus bekerja di belakang meja, apalagi harus menjual titel 'sok idealis" ku untuk sebuah jabatan... haaaahhh, aku semakin bingung... rasanya terlalu sok untuk memilih2 pekerjaan yang akan ku masukkan lamaran, sedang orang tua meminta untuk aku mengikuti tes pegawai negeri atau perusahaan apapunlah yang sedang membuka lowongan.. aku benar2 tak bisa berfikir... untuk memilih rasanya tidak mungkin di zaman sekarang yang serba sulit mendapatkan pekerjaan, sedangkan aku ingin tetap mempertahankan prinsip kerjaku (seperti kerjaan sebelumnya)...
DILEMA.. itu yang sedang menimpaku... ayyyooolllaaahhh, apakah aku harus berkompromi dengan desakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang serba mahal ini?? Bagaimana aku harus meyakinkan diriku sendiri kalau ini sebuah pengecualian??? sepertinya tidak akan bisa bertahan lama...
DILEMA... DILEMA... DILEMA.... huuufffttt
Saturday, August 7, 2010
Seorang pemuda sedang brdiri di tepian bukit terjang
ia berdiri sambil menatap langit yang biru nan jauh. Pandangannya
menerawang seraya berbisik lirih "Tuhan,aku tak mau menjadi orang-orang yang mengAniaya
diri sendiri dan orang lain dengan kebahagiaan maupun kebahagiaan yang kau berikan"
lalu pria itu bersujud
ia berdiri sambil menatap langit yang biru nan jauh. Pandangannya
menerawang seraya berbisik lirih "Tuhan,aku tak mau menjadi orang-orang yang mengAniaya
diri sendiri dan orang lain dengan kebahagiaan maupun kebahagiaan yang kau berikan"
lalu pria itu bersujud
Friday, August 6, 2010
Saturday, July 17, 2010
YANG TAK PERNAH BISA MENCINTAI MU
Baiknya kau melepas diri ku…
Yang tak pernah bisa mencintai Mu…
Seharusnya tak ku simpan iba ini…
Yang membuat mu terluka…
Alunan merdu suara ‘Ady’, Sang vokalis Naff Band bergema di ruang kamar kecilku. Lagu itu membuat perasaanku gelisah tak menentu. Aku teringat kembali semua peristiwa itu, Bagai sebuah proyektor yang memutar ulang semua peristiwa lalu. Jelas, semua masih jelas dalam ingatan ku, bagai baru terjadi kemarin.
“Ga… Tunggu, aku mau bicara sebentar sama kamu, penting… Please, tunggu aku.” Pinta cowok di belakang ku, setengah mengejar . Tapi tak sedikitpun niat ku untuk mengurangi kecepatan langkah kakiku, berusaha agar secepatnya bisa hilang dari hadapan cowok jangkung di belakangku itu.
Cowok itu adalah ‘Bowo’ Si Ketua OSIS di sekolah ku, dia pintar dan baik pada semua orang. Sudah satu bulan ini aku dan Bowo menjadi sepasang Romeo en Juliet atau yang bahasa kerennya ‘pacaran’.
Aku sangat sayang padanya, begitu juga sebaliknya. Tapi tidak untuk hari ini, Ya… tepatnya satu minggu terakhir ini. Aku merasa ada yang ganjil dengan hubungan kami sehingga aku selalu berusaha tidak menampakkan mukaku di hadapannya. Dan sangat jelas, sikapku ini membuatnya bingung.
“Ga…Tolong berhenti sebentar, aku janji sebentar saja setelah semuanya jelas.” Kata Bowo memohon, tapi aku tetap tidak memperdulikannya.
Begitulah yang terjadi setiap hari di sekolah, semua teman-temanku bingung melihat kami berdua.
“Ga, ada apa sih antara kamu dengan Bowo??” Tanya Ani sobatku bingung.
“Em… gak ada apa-apa kok, aku cuma malas aja ketemu dia.” Jawabku asal.
“Lho kok gitu, kenapa kamu nggak ngomong baik-baik sama dia, khan kasihan dia, kayak orang nagih hutang aja.” Kata Ani membujuk.
“Biarin ajalah Ni, kan nanti juga dia bosan sendiri. Lagian aku malas harus membicarakan masalah ini sekarang.” Elakku, seraya pergi meninggalkan Ani dengan rasa penasarannya.
Tak cuma Ani saja yang menanyakan hal itu, tetapi hampir semua teman di kelasku menanyakan hal yang sama. Dan sampai akhirnya aku merasa bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
“Udah deh kalian nggak usah ikut campur dengan urusanku, aku tau apa yang aku lakukan.” Jawabku ketus sangking kesalnya. Dan akhirnya teman-temanku tahu kalau aku sedang tidak mau diganggu.
Satu minggu telah berlalu, tapi Bowo tak sedikitpun menyerah untuk menjumpai dan meminta penjelasan atas sikapku selama ini. Aku sendiri heran dan salut dengan sikapnya itu. Aku semakin bosan dan akhirnya mengambil keputusan akan membicarakan dan menyelesaikan semuanya
“Biar tenang!!” Batinku dalam hati.
Dan keesokan harinya sepulang sekolah, aku langsung menuju ke kelas Bowo untuk menemuinya. Dia kaget sekali ketika melihat aku berdiri di depan kelasnya. Dia tersenyum manis kearah ku.
“Ga, aku yakin kalau pada akhirnya kamu mau menjelaskan semua yang terjadi. Aku benar-benar nggak mengerti kenapam kamu bersikap aneh, seakan kamu menghindar setiap kali berjumpa denganku.” Tanya Bowo bingung.
“Em… maaf Wo, akhir-akhir ini aku sibuk, ada masalah di rumah.” Ujarku berbohong.
“Ga, kalau ada masalah kenapa tidak membicarakannya padaku. Aku siap dan dengan senang hati menampung masalahmu.” Tawar Bowo tulus.
“Maaf Wo, aku nggak bisa menceritakan masalahku ini pada kamu, tapi sudahlah, sekarang kamu mau ngga nemanin aku ke kantin, ada yang ingin aku bicarakan ke kamu.” Ajak ku ragu. Ku lihat raut muka Bowo berubah jadi bingung, tapi ia tetap mengikuti ku juga.
Sesampainya di kantin aku sengaja mengambil meja yang terletak di sudut dan sunyi. Suasana siang itu memang agak sepi, maklum jam pulang sekolah !!
“Em Wo, Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan. Hal ini yang selalu membuatku resah dan dihantui rasa bersalah.” Kataku memulai percakapan dengan mengumpulkan keberanian penuh.
“Tentang apa Ga??” Tanya Bowo bingung, membuat aku ragu untuk menyampaikan semuanya. Tatapan itu meluluhkan hatiku, membuat aku iba seakan ia memohon pada ku.
“Tapi harus…Aku harus bisa” Tekat ku dalam hati, “Wo, terus terang aku sayang sekali sama kamu...” Aku sengaja menggantungkan kata- kataku, menunggu reaksinya. Sejenak aku diam, kembali menyusun kata-kata seindah mungkin agar ia tidak tersinggung.
“Tapi… jujur ku katakan, aku… Aku tak pernah bisa mencintaimu.” Kata-kataku keluar dengan sendirinya membuat aku sendiri tak percaya sanggup mengucapkannya. Sungguh... ini di luar kesadaranku.
Teggg… terdengar suara benda keras beradu, ternyata sendok yang Bowo pegang untuk makan bakso tadi terlepas dari genggamannya karena kaget. Aku tahu suaraku yang seperti angin itu terdengar seperti petir di telinga Bowo.
“A… Apa Ga. Apakah aku salah dengar tadi??” Tanya Bowo setengah berharap bahwa apa yang barusan didengarnya adalah salah.
“Tidak Wo, kamu ngga salah dengar dan aku ngga salah mengatakannya, itulah yang sebenarnya terjadi, Wo.” ujarku lirih. Sungguh tak sanggup aku menatapnya, sekarang aku hanya tertunduk tak berdaya.
“Ega… Kamu cuma bercanda kan? Kenapa kamu Ga, apa maksud semua ini, apa salah ku Ga?? Tolong… tolong kamu jelaskan semua ini !!” Bowo benar- benar tidak mengerti, dan ia butuh sekali penjelasan dari Ega, sekarang.
“Maafkan aku Wo, semua ini ku lakukan demi kebaikan kita berdua. Aku sudah tak ingin membohongi kamu lagi.” Terang ku.
“Maksud kamu apa, Ga?? Kamu membohongi aku?” Tanya Bowo masih tidak mengerti.
“Wo, sebenarnya aku menerimamu dulu karena aku tidak ingin melihatmu terluka. Kamu terlalu baik, Wo. Awalnya aku berfikir, suatu saat dengan selalu bersamamu aku akan belajar dan dapat mencintaimu. Tapi aku salah Wo, semakin lama aku bersama mu, perasaanku semakin merasa bersalah. Aku bukan saja telah membohongi dirimu tapi juga membohongi diriku sendiri.” Kataku lagi.
“Aku nggak nyangka Ga, kamu tega berbuat itu pada ku. Kamu tahukan kalau aku amat mencintaimu. Jadi selama ini kamu hanya bersandiwara mencintaiku??”
“Tidak Wo, aku tidak pernah bermaksud melukai mu. Aku benar-benar ngga ingin mengecewakanmu.” Kata ku membela diri.
“Hah… jadi kamu menganggap kalau ini adalah yang terbaik bagi diriku, Ga?? Nggak, Kamu salah besar Ga, dengan cara seperti ini aku sangat dan semakin kecewa.” Kata Bowo ketus. Dia benar-benar marah padaku. Dia berlari meninggalkan aku yang sedang berperang dengan perasaanku sendiri. Aku hanya dapat menatap kepergiannya hingga tubuhnya menjauh dan menghilang di tikungan lorong sekolah.
Aku tersenyum, senyum yang sangat pahit dan pedih, senyum yang ku persembahkan untuk kelukaan hati ku sendiri.
“It’s over. Semua sudah berakhir dan kini kau tahu semua yang sebenarnya, semua perasaanku pada mu. Maafkan aku, Wo.” Ujarku lemah.
Aku berjalan lunglai meninggalkan kantin, membawa setumpuk perasaan bersalah dan berdosa. Aku sadar kalau aku telah melukai Bowo, orang yang amat mencintai aku.
Aku tersadar dari lamunan panjangku. Masih terdengar nyanyian merdu Naff yang ternyata masih mengalun lembut di ruang kamar ku…
Maafkan lah… Diri ku…
Yang telah melukai perasaan Mu…
Maafkan lah… Salah ku…
Semoga kau dapat memaafkan Ku…
Yang tak pernah bisa mencintai Mu…
Seharusnya tak ku simpan iba ini…
Yang membuat mu terluka…
Alunan merdu suara ‘Ady’, Sang vokalis Naff Band bergema di ruang kamar kecilku. Lagu itu membuat perasaanku gelisah tak menentu. Aku teringat kembali semua peristiwa itu, Bagai sebuah proyektor yang memutar ulang semua peristiwa lalu. Jelas, semua masih jelas dalam ingatan ku, bagai baru terjadi kemarin.
“Ga… Tunggu, aku mau bicara sebentar sama kamu, penting… Please, tunggu aku.” Pinta cowok di belakang ku, setengah mengejar . Tapi tak sedikitpun niat ku untuk mengurangi kecepatan langkah kakiku, berusaha agar secepatnya bisa hilang dari hadapan cowok jangkung di belakangku itu.
Cowok itu adalah ‘Bowo’ Si Ketua OSIS di sekolah ku, dia pintar dan baik pada semua orang. Sudah satu bulan ini aku dan Bowo menjadi sepasang Romeo en Juliet atau yang bahasa kerennya ‘pacaran’.
Aku sangat sayang padanya, begitu juga sebaliknya. Tapi tidak untuk hari ini, Ya… tepatnya satu minggu terakhir ini. Aku merasa ada yang ganjil dengan hubungan kami sehingga aku selalu berusaha tidak menampakkan mukaku di hadapannya. Dan sangat jelas, sikapku ini membuatnya bingung.
“Ga…Tolong berhenti sebentar, aku janji sebentar saja setelah semuanya jelas.” Kata Bowo memohon, tapi aku tetap tidak memperdulikannya.
Begitulah yang terjadi setiap hari di sekolah, semua teman-temanku bingung melihat kami berdua.
“Ga, ada apa sih antara kamu dengan Bowo??” Tanya Ani sobatku bingung.
“Em… gak ada apa-apa kok, aku cuma malas aja ketemu dia.” Jawabku asal.
“Lho kok gitu, kenapa kamu nggak ngomong baik-baik sama dia, khan kasihan dia, kayak orang nagih hutang aja.” Kata Ani membujuk.
“Biarin ajalah Ni, kan nanti juga dia bosan sendiri. Lagian aku malas harus membicarakan masalah ini sekarang.” Elakku, seraya pergi meninggalkan Ani dengan rasa penasarannya.
Tak cuma Ani saja yang menanyakan hal itu, tetapi hampir semua teman di kelasku menanyakan hal yang sama. Dan sampai akhirnya aku merasa bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
“Udah deh kalian nggak usah ikut campur dengan urusanku, aku tau apa yang aku lakukan.” Jawabku ketus sangking kesalnya. Dan akhirnya teman-temanku tahu kalau aku sedang tidak mau diganggu.
Satu minggu telah berlalu, tapi Bowo tak sedikitpun menyerah untuk menjumpai dan meminta penjelasan atas sikapku selama ini. Aku sendiri heran dan salut dengan sikapnya itu. Aku semakin bosan dan akhirnya mengambil keputusan akan membicarakan dan menyelesaikan semuanya
“Biar tenang!!” Batinku dalam hati.
Dan keesokan harinya sepulang sekolah, aku langsung menuju ke kelas Bowo untuk menemuinya. Dia kaget sekali ketika melihat aku berdiri di depan kelasnya. Dia tersenyum manis kearah ku.
“Ga, aku yakin kalau pada akhirnya kamu mau menjelaskan semua yang terjadi. Aku benar-benar nggak mengerti kenapam kamu bersikap aneh, seakan kamu menghindar setiap kali berjumpa denganku.” Tanya Bowo bingung.
“Em… maaf Wo, akhir-akhir ini aku sibuk, ada masalah di rumah.” Ujarku berbohong.
“Ga, kalau ada masalah kenapa tidak membicarakannya padaku. Aku siap dan dengan senang hati menampung masalahmu.” Tawar Bowo tulus.
“Maaf Wo, aku nggak bisa menceritakan masalahku ini pada kamu, tapi sudahlah, sekarang kamu mau ngga nemanin aku ke kantin, ada yang ingin aku bicarakan ke kamu.” Ajak ku ragu. Ku lihat raut muka Bowo berubah jadi bingung, tapi ia tetap mengikuti ku juga.
Sesampainya di kantin aku sengaja mengambil meja yang terletak di sudut dan sunyi. Suasana siang itu memang agak sepi, maklum jam pulang sekolah !!
“Em Wo, Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan. Hal ini yang selalu membuatku resah dan dihantui rasa bersalah.” Kataku memulai percakapan dengan mengumpulkan keberanian penuh.
“Tentang apa Ga??” Tanya Bowo bingung, membuat aku ragu untuk menyampaikan semuanya. Tatapan itu meluluhkan hatiku, membuat aku iba seakan ia memohon pada ku.
“Tapi harus…Aku harus bisa” Tekat ku dalam hati, “Wo, terus terang aku sayang sekali sama kamu...” Aku sengaja menggantungkan kata- kataku, menunggu reaksinya. Sejenak aku diam, kembali menyusun kata-kata seindah mungkin agar ia tidak tersinggung.
“Tapi… jujur ku katakan, aku… Aku tak pernah bisa mencintaimu.” Kata-kataku keluar dengan sendirinya membuat aku sendiri tak percaya sanggup mengucapkannya. Sungguh... ini di luar kesadaranku.
Teggg… terdengar suara benda keras beradu, ternyata sendok yang Bowo pegang untuk makan bakso tadi terlepas dari genggamannya karena kaget. Aku tahu suaraku yang seperti angin itu terdengar seperti petir di telinga Bowo.
“A… Apa Ga. Apakah aku salah dengar tadi??” Tanya Bowo setengah berharap bahwa apa yang barusan didengarnya adalah salah.
“Tidak Wo, kamu ngga salah dengar dan aku ngga salah mengatakannya, itulah yang sebenarnya terjadi, Wo.” ujarku lirih. Sungguh tak sanggup aku menatapnya, sekarang aku hanya tertunduk tak berdaya.
“Ega… Kamu cuma bercanda kan? Kenapa kamu Ga, apa maksud semua ini, apa salah ku Ga?? Tolong… tolong kamu jelaskan semua ini !!” Bowo benar- benar tidak mengerti, dan ia butuh sekali penjelasan dari Ega, sekarang.
“Maafkan aku Wo, semua ini ku lakukan demi kebaikan kita berdua. Aku sudah tak ingin membohongi kamu lagi.” Terang ku.
“Maksud kamu apa, Ga?? Kamu membohongi aku?” Tanya Bowo masih tidak mengerti.
“Wo, sebenarnya aku menerimamu dulu karena aku tidak ingin melihatmu terluka. Kamu terlalu baik, Wo. Awalnya aku berfikir, suatu saat dengan selalu bersamamu aku akan belajar dan dapat mencintaimu. Tapi aku salah Wo, semakin lama aku bersama mu, perasaanku semakin merasa bersalah. Aku bukan saja telah membohongi dirimu tapi juga membohongi diriku sendiri.” Kataku lagi.
“Aku nggak nyangka Ga, kamu tega berbuat itu pada ku. Kamu tahukan kalau aku amat mencintaimu. Jadi selama ini kamu hanya bersandiwara mencintaiku??”
“Tidak Wo, aku tidak pernah bermaksud melukai mu. Aku benar-benar ngga ingin mengecewakanmu.” Kata ku membela diri.
“Hah… jadi kamu menganggap kalau ini adalah yang terbaik bagi diriku, Ga?? Nggak, Kamu salah besar Ga, dengan cara seperti ini aku sangat dan semakin kecewa.” Kata Bowo ketus. Dia benar-benar marah padaku. Dia berlari meninggalkan aku yang sedang berperang dengan perasaanku sendiri. Aku hanya dapat menatap kepergiannya hingga tubuhnya menjauh dan menghilang di tikungan lorong sekolah.
Aku tersenyum, senyum yang sangat pahit dan pedih, senyum yang ku persembahkan untuk kelukaan hati ku sendiri.
“It’s over. Semua sudah berakhir dan kini kau tahu semua yang sebenarnya, semua perasaanku pada mu. Maafkan aku, Wo.” Ujarku lemah.
Aku berjalan lunglai meninggalkan kantin, membawa setumpuk perasaan bersalah dan berdosa. Aku sadar kalau aku telah melukai Bowo, orang yang amat mencintai aku.
Aku tersadar dari lamunan panjangku. Masih terdengar nyanyian merdu Naff yang ternyata masih mengalun lembut di ruang kamar ku…
Maafkan lah… Diri ku…
Yang telah melukai perasaan Mu…
Maafkan lah… Salah ku…
Semoga kau dapat memaafkan Ku…
Maafkan aku karena telah lama tak mengunjungimu,
Bukan aku lupa padamu, bukan pula aku mengabaikanmu...
Aku hanya tak mampu berjalan menuju tempat terakhirmu,
Menatap ke arah pusaramu dan merasakan perih karena tak dapat menatapmu..
Mengingat aku tak sempat bertemu denganmu,
Semua itu membuat langkah kakiku menjadi kaku...
Maafkan aku karena telah lama tak mengunjungimu
Bukan aku tak ingat padamu, disini aku selalu mendoakanmu
Betapapun sedihnya aku, aku tau semua takkan bisa terulang
Waktu ini hanya dapat ku gunakan untuk meminta maafmu
dan mengirimkan sepenggal kenangan bersamamu
Maafkan aku karena telah lama tak mengunjungimu...
Alfatihah...
Bukan aku lupa padamu, bukan pula aku mengabaikanmu...
Aku hanya tak mampu berjalan menuju tempat terakhirmu,
Menatap ke arah pusaramu dan merasakan perih karena tak dapat menatapmu..
Mengingat aku tak sempat bertemu denganmu,
Semua itu membuat langkah kakiku menjadi kaku...
Maafkan aku karena telah lama tak mengunjungimu
Bukan aku tak ingat padamu, disini aku selalu mendoakanmu
Betapapun sedihnya aku, aku tau semua takkan bisa terulang
Waktu ini hanya dapat ku gunakan untuk meminta maafmu
dan mengirimkan sepenggal kenangan bersamamu
Maafkan aku karena telah lama tak mengunjungimu...
Alfatihah...
Subscribe to:
Posts (Atom)


