Ada sekumpulan awan mendung yang selalu menyelimuti dunia-ku- kini, setiap kali ku memandang wajah-wajah yang tak lagi tersenyum. Aku tak lagi merasa bahagia berada di sekitar mereka, tak lagi merasa aman, wajah-wajah itu seolah berubah menjadi sosok yang sangat tidak menyenangkan, seolah menyerap semua kegembiraan dan ketenangan yang ku miliki.
Ada sekumpulan awan hitam yang kini menyelimuti dunia-ku-, ketika murka dan kemarahan, dianggap, adalah jalan keluat terbaik untuk menyelesaikan masalah. Wajah-wajah yang dulu ramah, kini tak lagi tampak seperti itu. Seolah topeng mereka semua tergantikan dengan paras kecam dan beringas. Anarkis, menjadi sebuah budaya yang kini diajarkan, bahkan yang paling miris adalah bukan dilakukan wajah yang tak berpendidikan, sebaliknya, wajah yang menyebut diri mereka sebagai kaum intelek-lah yang lebih anarkis.
Menyedihkan... bukan..bukan... tragis atau ironis yang dapat menggambarkan dunia-ku-kini?
Mengapa dunia-ku- tak lagi ramah?
Kemana perginya rasa cinta itu?
kemana perginya rasa menyayangi itu?
dan kemanakah perginya rasa persatuan itu?
Apakah memang sudah tidak ada lagi cinta di sini, ketika ku lihat wajah-wajah itu. Mengapa rasa yang dulu pernah ada untuk menyatukan Bangsa ini seolah lenyap begitu saja. Keinginan untuk merusak dan menyakiti lebih besar dari keinginan untuk menjaga dan melindungi...
Mengapa dunia-ku- tak lagi ramah?
Apa yang harus aku ceritakan pada generasiku kelak, ketika wajah-wajah itu telah berganti dengan wajah-wajah baru yang ingin tau sejarah dunia-ku?
Apa yang harus ku banggakan, jika semua cinta dan kasih sayang itu bukan lagi sesuatu yang dirasakan?
"Terkadang kita HANYA merasa kalau kitalah yang sedang MEMPERJUANGKAN sesuatu, dengan bangganya kita mengaku sebagai tangan TUHAN panyampai asa RAKYAT, dan dengan "gagahnya" kita mengucapkan KEADILAN dan MORAL, NAMUN kita tak pernah sadar kalau SEBANARNYA kitalah yang MERUSAK PERJUANGAN itu, MENGOTORI KESUCIAN dari sebuah pengorbanan dari perjuangan itu... Selalu ada yang menjadi korban dari KEEGOISAN yang tak pernah kita sadari,,, HINGGA pada AKHIRNYA, anak-anak dan cucu-cucu Kita kelak lah yang akan merasakannya.. KETIKA SAAT ITU TIBA,, SUDAH TAK ADA LAGI YANG DAPAT KITA BANGGAKAN DARI PERJUANGAN ITU"
Mengapa Dunia-ku- Tak Lagi Ramah?
(Bandung, "KeprihatinanKu atas wajah-wajah yang tak lagi tersenyum")
Sunday, April 25, 2010
Saturday, February 20, 2010
Rindu Kampung Halamanku.. (AKU INGIN PULANG!!!)
Malam minggu, seperti biasa di kostan,,, menghabiskan waktu di depan laptop dan menyususri dunia maya...
Walau hanya sekedar menge-check email, berJejaring sosial, mulai dari Facebook sampai Tagged, melihat teman2 lama atau teman2 baru yang masuk. Tiba-tiba saja jantungku dag-dig-gug.. duh ada apa ini??? ngga tau kenapa perasaan langsung berubah drastis. Ada sesuatu yang hampa.. aku merasa RINDU... INGIN PULANG.
Dumai, si kota minyak itu benar-benar membuatku SAKIT. Lebih tepatnya HOMESICK... benar-benar kerinduan ini tak terbendung lagi. Entah apa yang membuatku ingin pulang ke sana.... Tapi yang jelas aku merindukan kota-ku yang panas dan berdebu itu. Suasana yang sangat lekat dengan memoriku, dan semua kenangan indah yang terjadi di sana. Aku INGIN PULANG... otak ku hanya menyuarakan itu dan itu lagi... Bunda,, adik,, teman-teman,, aku benar2 merindukan kalian..
Semoga saja keinginan ini secepatnya terwujudkan.. Kembali pulang ke Kampung Halaman adalah sesuatu yang pastinya membahagiakan... AKU RINDU KAMPUNG HALAMAN KU...
--- LOVE DUMAI ---
Walau hanya sekedar menge-check email, berJejaring sosial, mulai dari Facebook sampai Tagged, melihat teman2 lama atau teman2 baru yang masuk. Tiba-tiba saja jantungku dag-dig-gug.. duh ada apa ini??? ngga tau kenapa perasaan langsung berubah drastis. Ada sesuatu yang hampa.. aku merasa RINDU... INGIN PULANG.
Dumai, si kota minyak itu benar-benar membuatku SAKIT. Lebih tepatnya HOMESICK... benar-benar kerinduan ini tak terbendung lagi. Entah apa yang membuatku ingin pulang ke sana.... Tapi yang jelas aku merindukan kota-ku yang panas dan berdebu itu. Suasana yang sangat lekat dengan memoriku, dan semua kenangan indah yang terjadi di sana. Aku INGIN PULANG... otak ku hanya menyuarakan itu dan itu lagi... Bunda,, adik,, teman-teman,, aku benar2 merindukan kalian..
Semoga saja keinginan ini secepatnya terwujudkan.. Kembali pulang ke Kampung Halaman adalah sesuatu yang pastinya membahagiakan... AKU RINDU KAMPUNG HALAMAN KU...
--- LOVE DUMAI ---
Monday, February 15, 2010
Malam ini, entah mengapa ada yang lain yang hadir di hatiku. Perasaan yang telah lama alpa dari hatiku, seolah hadir mengisi kekosongan di sana. Bahagia, itu lah yang kurasakan. Kebahagiaan yang lain, yang jarang sekali ku rasakan beberapa tahun ini. Aku seolah menemukan sisi mata uangku yang lain. Aku menemukan DIA, DIA yang telah lama tidak menyapaku, untuk sekedar menyentuh hatiku, membuatku tersenyum, tersipu sekaligus terbang.
Malam ini, hanya dengan sebuah candaan konyol dan ngga jelas, tapi sangat berarti bagiku. Ada sesuatu yang lain dari pembicaraan kami malam ini. Dia yang telah lama hilang dan hanya ada dalam sebuah kotak dalam hatiku yang paling dalam, kini seakan perlahan-lahan muncul ke permukaan, mengapung di dasar jiwa-jiwa memercikkan bahagia ketika disentuh. Rasanya sudah cukup jika hanya sekedar bercerita dengannya tentang sesuatu yang ngga penting, saling menggoda dengan ejekan yang sengaja diciptakan hanya untuk fun semata. Aku bisa merasakan detakan jantungku yang berpacu dengan aliran darahku, memercikkan keriangan, hingga sunggingan bibirku tak henti-hentinya tersenyum. Aku benar-benar kepayang, apalagi Dia, orang yang selama ini hanya dapat ku pandangi fotonya, orang yang sempat kuinginkan untuk bersama, walau akhirnya semua itu kembali lagi hanya menjadi sebuah "keinginan", dan tampaknya cukup hanya akan menjadi keinginan.
Entah mengapa malam ini aku memberanikan diri meminta (berdoa) kepada Tuhan, untuk menyampaikan perasaanku pada, walau hanya lewat angin. Aku meminta agar Dia bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku benar-benar kepayang, sesuatu yang tak pernah ku rasakan beberapa tahun terakhir ini. Perasaan senang, takut, sekaligus pesimis, yah... itulah perasaan yang membuatku mabuk kepayang. Rasanya ada sebuah tantangan untuk memikirkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya kepadaku. Aku hanya bermain dengan fikiranku sendiri, berandai-anadi, seumpama dia begini... andaikan dia begitu.. dan semua andai-andai lainnya.
Tapi tampaknya ketakutanku akan segera membangunkanku dari mimpi indah ini, dari perasaan semu ini. Ketekutanku akan segera menuntunku ke jalan kenyataan, bahwa aku tak perlu terlalu berharap dengan semua perasaan itu ataupun bagaimana perasaannya padaku. Ketakutanku yang akan kembali memenjarakan DIA yang sudah lama tersimpan dipeti itu, dan entah kapan akan dapat dibuka kembali.
Yah... malam ini, HANYA malam ini aku BERANI sedikit BERMIMPI, seandainya kami dipertemukan dan dipersatukan. Membiarkan diriku terlena dengan manis semua perasaan ini, tanpa memikirkan sakitnya..
ya... HANYA MALAM INI.
Malam ini, hanya dengan sebuah candaan konyol dan ngga jelas, tapi sangat berarti bagiku. Ada sesuatu yang lain dari pembicaraan kami malam ini. Dia yang telah lama hilang dan hanya ada dalam sebuah kotak dalam hatiku yang paling dalam, kini seakan perlahan-lahan muncul ke permukaan, mengapung di dasar jiwa-jiwa memercikkan bahagia ketika disentuh. Rasanya sudah cukup jika hanya sekedar bercerita dengannya tentang sesuatu yang ngga penting, saling menggoda dengan ejekan yang sengaja diciptakan hanya untuk fun semata. Aku bisa merasakan detakan jantungku yang berpacu dengan aliran darahku, memercikkan keriangan, hingga sunggingan bibirku tak henti-hentinya tersenyum. Aku benar-benar kepayang, apalagi Dia, orang yang selama ini hanya dapat ku pandangi fotonya, orang yang sempat kuinginkan untuk bersama, walau akhirnya semua itu kembali lagi hanya menjadi sebuah "keinginan", dan tampaknya cukup hanya akan menjadi keinginan.
Entah mengapa malam ini aku memberanikan diri meminta (berdoa) kepada Tuhan, untuk menyampaikan perasaanku pada, walau hanya lewat angin. Aku meminta agar Dia bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku benar-benar kepayang, sesuatu yang tak pernah ku rasakan beberapa tahun terakhir ini. Perasaan senang, takut, sekaligus pesimis, yah... itulah perasaan yang membuatku mabuk kepayang. Rasanya ada sebuah tantangan untuk memikirkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya kepadaku. Aku hanya bermain dengan fikiranku sendiri, berandai-anadi, seumpama dia begini... andaikan dia begitu.. dan semua andai-andai lainnya.
Tapi tampaknya ketakutanku akan segera membangunkanku dari mimpi indah ini, dari perasaan semu ini. Ketekutanku akan segera menuntunku ke jalan kenyataan, bahwa aku tak perlu terlalu berharap dengan semua perasaan itu ataupun bagaimana perasaannya padaku. Ketakutanku yang akan kembali memenjarakan DIA yang sudah lama tersimpan dipeti itu, dan entah kapan akan dapat dibuka kembali.
Yah... malam ini, HANYA malam ini aku BERANI sedikit BERMIMPI, seandainya kami dipertemukan dan dipersatukan. Membiarkan diriku terlena dengan manis semua perasaan ini, tanpa memikirkan sakitnya..
ya... HANYA MALAM INI.
Tuesday, February 9, 2010
Dosa-Dosa Media Massa
Berawal dari mendapatkan sebuah email berantai dari seorang teman, yang berjudul "Bagaimana Merekonstruksi Masa Depan Bangsa Ini?". Berisikan bagaimana tantangan yang dihadapi Sumber Daya Manusia kita semakin mengkhawatirkan saja. Khususnya dalam konteks mempersiapkan generasi masa depan. Mengutip isi pesan tersebut "generasi muda kita dinina bobokan oleh buaian hura-hura secara membabi buta."
Membaca isi pesan tersebut, saya kembali mengingat sebuah pertanyaan yang pernah terlintas di fikiran saya. Pertanyaan yang tak sempat mendapat jawaban atau pun penjelasan selanjutnya, pertanyaan yang saya biarkan seiring dengan "rasa tak perduli" dari orang-orang yang seharusnya peduli. Saya memikirkan, sesungguhnya betapa berat peran sebuah media massa di negara ini. Tak hanya sebagai penyampai informasi belaka, namun -harusnya- lebih dari itu, 'MEMBELAJARKAN MASYARAKAT", dimana masyarakat belajar melalui media (apapun) yang dilihatnya.
Namun melihat kenyataannya, tampaknya media kita harus lebih banyak berkaca dan berbenah diri. Sistem kapitalis atau lebih mencari untung sebesar-besarnya, atau sekedar siapa yang banyak ditonton masayarakat, benar-benar menambah buruk keadaan negara ini.Tidak menyalahkan untuk mengambil untung sebesar-besarnya (sah-sah saja pastinya), namun harus didukung pula dengan hakekat mengapa media massa itu harus ada, yaitu hakekat dasar sebagai membelajarkan masyarakat.
Sesungguhnya, bukankah menciptakan masyarakat (khususnya generasi NOTHING) adalah dosa sebuah media massa. Betapa-sebenarnya- dosa itu harus dipikul sampai akhirnya menghancurkan sebuah negara. Betapa riskan, setiap hari media massa menyuguhkan informasi yang sedikit sekali nilai edukatif. Kebanyakan adalah yang bersifat "ngga masuk akal" dan lebih parahnya "membodohi" masyarakat. Massa di'cekoki' dengan isu-isu yang belum jelas kebenarannya, seolah ingin membentuk opini publik, media massa malah me'mineset' setiap pikiran masyarakatnya dengan ketidak adilan dan ketidak bahagiaan, dan dengan seEnaknya mengatas namakan REALITA.
Infotainment menambah buruk situasi, dengan gosip-gosip ngga penting tentang seorang artis, yang entah apalah hubungannya dengan masyarakat (dalihnya sih untuk konsumsi fans, dan fans harus tau). WHAT??? lalu dimana letak PRIVASI sebagai manusia, kalau semua harus di"telanjangi" sampai ke akar-akarnya. Tentang pernikahan si ini, perceraian si itu, si dia yang hamil di luar nikah... oh my GOD, betapa ironinya semua ini. Bagaimana semua itu akan mencadi cerminan masyarakat negara ini, remaja-remaja zaman ini. Lucunya lagi, bermunculan bak jamur di musim hujan,plagiat-plagiat televisi. Tidak di sinetron, pun di acara-acar kuis atau acara realita. Benar-benar ngga kreatif, menjiplak-plak-plak ide film-film terkenal, acara-acara terkenal di luar negeri, lalu merubah adegan/dialoh atau mengganti nama acara/judulnya saja. Tapi dari semua itu yang paling TRAGIS, semua itu diLEGALKAN dan disiarkan oleh stasiun televisi swasta terkemuka yang HARUSNYA PINTAR dan TAHU kalu itu adalah sebuah penjiplakan.
Tak cukup dengan itu, dunia FILM pun ketularan dengan menampilkan cerita-cerita ngga masuk akal dan lebih tepatnya "sampah" belaka. Mulai dari kehidupan remaja jaman sekarang (yang katanya begitulah keadaannya di masyarakat). Bukankah kalau memang kenyataannya seperti itu hendaknya diberi nilai pembelajaran untuk memperbaiki bukan malah hanya menjual cerita di masyarakat dan menjadi pelajaran tidak baik di kalangan remaja sendiri. Adalagi cerita-cerita HOROR yang katanya diangkat dari urban legend (yang entak berasal dari mana). Yang anehnya pada genre ini, adegan yang dipertontonkan tidak ada kaitannya dengan cerita yang ditawarkan. Adegan2 fulgar dan berani, lebih banyak ditampilkan. JADI sebenarnya para sineas itu berimajinasi HOROR atau PORNO? Masyarakat (khususnya kaum remaja) berbondong-bondong mengantri tiket, membayar dengan mahal untuks ebuah film yang sama sekali tidak mendidik (bukankah itu sama saja dengan MERAMPOK secara TERANG-TERANGAN,ya??)
Dan kini mulai pula dengan persaingan dunia penyiaran berita (News). Bagai ajang IDOL, semua berlomba menjadi siapa yang paling lengkap atau "deep investigation" dalam mengangkat sebuah kasus di negara ini. Tak jarang malah "menghalalkan" HIPORBOLA a.k.a LEBAY dalam penyampaiannya. Semua itu hanya demi satu tujuan yaitu KEUNTUNGAN dan RATTING teratas di kategorinya. Tak ada lagi yang namanya news media yang tak berpihak, yang menyampaikan kebenaran sesungguhnya tanpa harus MENGHAKIMI pihak manapun, media yang seharusnya memberi PILIHAN pada penonton untuk memberi KESIMPULAN, bukan MENGAJAK BERKESIMPULAN SAMA.
LUCU, tapi tak dapat tertawa. Itulah yang saya rasakan ketika membaca email yang saya dapatkan itu. Lucu karena "mereka" semua menjadi badut tontonan yang "berusaha" menghibur masyarakat. Namun sayang, semua hiburan itu tidak dapat saya nikmati karena dibalik itu semua, ada yang telah dikorbankan yaitu GENERASI MUDA yang kelak akan mamikul beban negara ini.
Dari semua itu, pertanyaan yang muncul kembali adalah "Apakah "mereka" (media massa,red) tahu akan dosa yang telah mereka lakukan itu, atau mereka tahu tapi bersikap tidak mau tahu??" Memang sih "katanya" masyarakat cukup pintar untuk memilih dan mencerna informasi dari media massa, tapi teori memang bagai sebuah sisi mata uang yang berbeda, kenyataannya tidaklah demikian. Ternyata masyarakat lebih pintar untuk LEBIH MEMILIH DIRACUNI dengan informasi dan tayangan yang ngga penting..
Oh...Oh..Oh... Akhirnya dosa-dosa media massa pun berubah menjadi WABAH yang harus ditanggung bersama.
(Dhiena "aku peduli maka aku bersuara!", Februari'10)
Membaca isi pesan tersebut, saya kembali mengingat sebuah pertanyaan yang pernah terlintas di fikiran saya. Pertanyaan yang tak sempat mendapat jawaban atau pun penjelasan selanjutnya, pertanyaan yang saya biarkan seiring dengan "rasa tak perduli" dari orang-orang yang seharusnya peduli. Saya memikirkan, sesungguhnya betapa berat peran sebuah media massa di negara ini. Tak hanya sebagai penyampai informasi belaka, namun -harusnya- lebih dari itu, 'MEMBELAJARKAN MASYARAKAT", dimana masyarakat belajar melalui media (apapun) yang dilihatnya.
Namun melihat kenyataannya, tampaknya media kita harus lebih banyak berkaca dan berbenah diri. Sistem kapitalis atau lebih mencari untung sebesar-besarnya, atau sekedar siapa yang banyak ditonton masayarakat, benar-benar menambah buruk keadaan negara ini.Tidak menyalahkan untuk mengambil untung sebesar-besarnya (sah-sah saja pastinya), namun harus didukung pula dengan hakekat mengapa media massa itu harus ada, yaitu hakekat dasar sebagai membelajarkan masyarakat.
Sesungguhnya, bukankah menciptakan masyarakat (khususnya generasi NOTHING) adalah dosa sebuah media massa. Betapa-sebenarnya- dosa itu harus dipikul sampai akhirnya menghancurkan sebuah negara. Betapa riskan, setiap hari media massa menyuguhkan informasi yang sedikit sekali nilai edukatif. Kebanyakan adalah yang bersifat "ngga masuk akal" dan lebih parahnya "membodohi" masyarakat. Massa di'cekoki' dengan isu-isu yang belum jelas kebenarannya, seolah ingin membentuk opini publik, media massa malah me'mineset' setiap pikiran masyarakatnya dengan ketidak adilan dan ketidak bahagiaan, dan dengan seEnaknya mengatas namakan REALITA.
Infotainment menambah buruk situasi, dengan gosip-gosip ngga penting tentang seorang artis, yang entah apalah hubungannya dengan masyarakat (dalihnya sih untuk konsumsi fans, dan fans harus tau). WHAT??? lalu dimana letak PRIVASI sebagai manusia, kalau semua harus di"telanjangi" sampai ke akar-akarnya. Tentang pernikahan si ini, perceraian si itu, si dia yang hamil di luar nikah... oh my GOD, betapa ironinya semua ini. Bagaimana semua itu akan mencadi cerminan masyarakat negara ini, remaja-remaja zaman ini. Lucunya lagi, bermunculan bak jamur di musim hujan,plagiat-plagiat televisi. Tidak di sinetron, pun di acara-acar kuis atau acara realita. Benar-benar ngga kreatif, menjiplak-plak-plak ide film-film terkenal, acara-acara terkenal di luar negeri, lalu merubah adegan/dialoh atau mengganti nama acara/judulnya saja. Tapi dari semua itu yang paling TRAGIS, semua itu diLEGALKAN dan disiarkan oleh stasiun televisi swasta terkemuka yang HARUSNYA PINTAR dan TAHU kalu itu adalah sebuah penjiplakan.
Tak cukup dengan itu, dunia FILM pun ketularan dengan menampilkan cerita-cerita ngga masuk akal dan lebih tepatnya "sampah" belaka. Mulai dari kehidupan remaja jaman sekarang (yang katanya begitulah keadaannya di masyarakat). Bukankah kalau memang kenyataannya seperti itu hendaknya diberi nilai pembelajaran untuk memperbaiki bukan malah hanya menjual cerita di masyarakat dan menjadi pelajaran tidak baik di kalangan remaja sendiri. Adalagi cerita-cerita HOROR yang katanya diangkat dari urban legend (yang entak berasal dari mana). Yang anehnya pada genre ini, adegan yang dipertontonkan tidak ada kaitannya dengan cerita yang ditawarkan. Adegan2 fulgar dan berani, lebih banyak ditampilkan. JADI sebenarnya para sineas itu berimajinasi HOROR atau PORNO? Masyarakat (khususnya kaum remaja) berbondong-bondong mengantri tiket, membayar dengan mahal untuks ebuah film yang sama sekali tidak mendidik (bukankah itu sama saja dengan MERAMPOK secara TERANG-TERANGAN,ya??)
Dan kini mulai pula dengan persaingan dunia penyiaran berita (News). Bagai ajang IDOL, semua berlomba menjadi siapa yang paling lengkap atau "deep investigation" dalam mengangkat sebuah kasus di negara ini. Tak jarang malah "menghalalkan" HIPORBOLA a.k.a LEBAY dalam penyampaiannya. Semua itu hanya demi satu tujuan yaitu KEUNTUNGAN dan RATTING teratas di kategorinya. Tak ada lagi yang namanya news media yang tak berpihak, yang menyampaikan kebenaran sesungguhnya tanpa harus MENGHAKIMI pihak manapun, media yang seharusnya memberi PILIHAN pada penonton untuk memberi KESIMPULAN, bukan MENGAJAK BERKESIMPULAN SAMA.
LUCU, tapi tak dapat tertawa. Itulah yang saya rasakan ketika membaca email yang saya dapatkan itu. Lucu karena "mereka" semua menjadi badut tontonan yang "berusaha" menghibur masyarakat. Namun sayang, semua hiburan itu tidak dapat saya nikmati karena dibalik itu semua, ada yang telah dikorbankan yaitu GENERASI MUDA yang kelak akan mamikul beban negara ini.
Dari semua itu, pertanyaan yang muncul kembali adalah "Apakah "mereka" (media massa,red) tahu akan dosa yang telah mereka lakukan itu, atau mereka tahu tapi bersikap tidak mau tahu??" Memang sih "katanya" masyarakat cukup pintar untuk memilih dan mencerna informasi dari media massa, tapi teori memang bagai sebuah sisi mata uang yang berbeda, kenyataannya tidaklah demikian. Ternyata masyarakat lebih pintar untuk LEBIH MEMILIH DIRACUNI dengan informasi dan tayangan yang ngga penting..
Oh...Oh..Oh... Akhirnya dosa-dosa media massa pun berubah menjadi WABAH yang harus ditanggung bersama.
(Dhiena "aku peduli maka aku bersuara!", Februari'10)
Saturday, January 23, 2010
"apa yang kau cari di dunia ini?"
Sebuah pertanyaan yang singkat. "klasik" itulah yang pertama kali muncul ketika pertanyaan itu muncul di sela-sela obrolan hangat kita. Tapi, yang menarik, tak banyak orang yang mampu menjawab pertanyaan "singkat" dan "klasik" itu. Ya... tak banyak orang yang benar-benar tau, apa yang ingin di carinya di dunia ini.
Ketika pertanyaan itu hadir pagi ini, di sebuah obrolanku bersama sahabat lama, aku pun tak mampu menjawabnya. "Apa yang kau cari di dunia ini?" begitu katanya. Aku terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa yang paling tepat untuk pertanyaan itu. TAK ADA, aku tak menemukan jawaban apapun untuk pertanyaan itu. Aku tersenyum, miris.. betapa seringnya aku dengar pertanyaan itu, tapi masih tak kutemukan jg jawaban atas pertanyaan itu.
Temanku berkata lagi, "itulah yang aku rasakan sekarang. aku selalu mempertanyakan itu. Dan aku tak bisa menjawabnya,"
"Aku pun begitu, sob" ujarku dalam hati.
Tapi setelah ku pikirlan lagi, aku menyadari ada sesuatu yang sangat aku inginkan di dunia ini. Aku mencari sebuah ketenangan. Ketenangan yang pastinya akan mendatangkan kebahagiaan.
"Bagaimana cara untuk mendapatkan ketenangan itu?" tanyanya lagi.
"Aku mendapatkannya dengan sebuah kePERCAYAan. aku hanya harus percaya kalau diriku bisa memperoleh ketenangan itu.
Tampaknya terlalu mudah jika hanya mengucapkannya saja, namun itulah yang selama ini sedang aku pelajari dan terus aku usahakan. Memang sangat tidak mudah untuk mendapatkan ketenangan seperti gambaran ki itu, namun aku yakin, jika aku mampu mendapatkannya. Aku hanya harus terus mencarinya.
Mungkin pertanyaan itu hadir bukan tidak ada sebabnya, pertanyaan yang simpel itu hadir ketika jiwa kita haus akan sebuah pertanyaan, lelah akan sebuah perjalanan yang tanpa tujuan atau karena sebenarnya kita lupa akan tujuan kita hidup di dunia ini. Melupakan Tuhannya, melupakan Sang penciptanya,melupakan Allah swt. Kadang kita terlalu terlena dengan ritme kehidupan yang kita jalani. Kita lupa mensyukuri, kita lupa berbagi, kita lupa untuk lebih mengingatnya, hingga kita lupa pada diri kita sendiri dan tujuan kita di dunia...
Bermula dari sebuah pertanyaan singkat dan klasik, aku kembali teringat betapa aku masih harus mencari apa yang kuUcapkan tadi. Aku pun tak mau hanya sekedar berucap, aku tak mau menjadi munafik...
Yang kubutuhkan hanya PERCAYA kalau RAKHMAT dan RIDHO ALLAH SWT lah yang sebenarnya kita cari. Karena tak ada alasan apapun ketika Allah menciptakan manusia di bumi, melainkan untuk selalu memuji dan beriman kepadaNya.
Semoga pertanyaan "Apa yang kau cari di dunia ini?", akan segera kuwujudkan jawabannya.
Ketika pertanyaan itu hadir pagi ini, di sebuah obrolanku bersama sahabat lama, aku pun tak mampu menjawabnya. "Apa yang kau cari di dunia ini?" begitu katanya. Aku terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa yang paling tepat untuk pertanyaan itu. TAK ADA, aku tak menemukan jawaban apapun untuk pertanyaan itu. Aku tersenyum, miris.. betapa seringnya aku dengar pertanyaan itu, tapi masih tak kutemukan jg jawaban atas pertanyaan itu.
Temanku berkata lagi, "itulah yang aku rasakan sekarang. aku selalu mempertanyakan itu. Dan aku tak bisa menjawabnya,"
"Aku pun begitu, sob" ujarku dalam hati.
Tapi setelah ku pikirlan lagi, aku menyadari ada sesuatu yang sangat aku inginkan di dunia ini. Aku mencari sebuah ketenangan. Ketenangan yang pastinya akan mendatangkan kebahagiaan.
"Bagaimana cara untuk mendapatkan ketenangan itu?" tanyanya lagi.
"Aku mendapatkannya dengan sebuah kePERCAYAan. aku hanya harus percaya kalau diriku bisa memperoleh ketenangan itu.
Tampaknya terlalu mudah jika hanya mengucapkannya saja, namun itulah yang selama ini sedang aku pelajari dan terus aku usahakan. Memang sangat tidak mudah untuk mendapatkan ketenangan seperti gambaran ki itu, namun aku yakin, jika aku mampu mendapatkannya. Aku hanya harus terus mencarinya.
Mungkin pertanyaan itu hadir bukan tidak ada sebabnya, pertanyaan yang simpel itu hadir ketika jiwa kita haus akan sebuah pertanyaan, lelah akan sebuah perjalanan yang tanpa tujuan atau karena sebenarnya kita lupa akan tujuan kita hidup di dunia ini. Melupakan Tuhannya, melupakan Sang penciptanya,melupakan Allah swt. Kadang kita terlalu terlena dengan ritme kehidupan yang kita jalani. Kita lupa mensyukuri, kita lupa berbagi, kita lupa untuk lebih mengingatnya, hingga kita lupa pada diri kita sendiri dan tujuan kita di dunia...
Bermula dari sebuah pertanyaan singkat dan klasik, aku kembali teringat betapa aku masih harus mencari apa yang kuUcapkan tadi. Aku pun tak mau hanya sekedar berucap, aku tak mau menjadi munafik...
Yang kubutuhkan hanya PERCAYA kalau RAKHMAT dan RIDHO ALLAH SWT lah yang sebenarnya kita cari. Karena tak ada alasan apapun ketika Allah menciptakan manusia di bumi, melainkan untuk selalu memuji dan beriman kepadaNya.
Semoga pertanyaan "Apa yang kau cari di dunia ini?", akan segera kuwujudkan jawabannya.
yang tertinggal dari kenangan itu adalah LUKA
yang membuatku benci adalah
mengapa aku terlalu mencintaimu,
yang membuatku tak bisa lepas dari ikatanmu
sejauh apapun aku berlari, seolah ada saja yang menarikku
kembali untuk mengingat tentangmu...
sungguh perasaan benci itu aku tanam untuk diriku sendiri,
benci karena membiarkan dirimu menguasai hidup masalaluku,
benci karena membiarkan diriku diperbudak oleh kenanganmu,
benci karena aku membodohi diriku untuk menerima kesedihan
karena kehilanganmu
aku membenci diriku sendiri, karena masih saja tak bisa berani
untuk membuang jauh-jauh perasaan bodoh itu..
kenangan itu, seharusnya tak berarti apa-apa untukku
kenangan itu, seharusnya membuatku tau kalau kau tak layak untukku
dan kenangan itu, seharusnya membangkitkanku untuk segera lepas darimu
karena.. yang tertinggal dari semua kenangan itu adalah LUKA
dan LUKA itu harus segera aku obati, biar pulih, dan kudapat berdiri lagi
mengapa aku terlalu mencintaimu,
yang membuatku tak bisa lepas dari ikatanmu
sejauh apapun aku berlari, seolah ada saja yang menarikku
kembali untuk mengingat tentangmu...
sungguh perasaan benci itu aku tanam untuk diriku sendiri,
benci karena membiarkan dirimu menguasai hidup masalaluku,
benci karena membiarkan diriku diperbudak oleh kenanganmu,
benci karena aku membodohi diriku untuk menerima kesedihan
karena kehilanganmu
aku membenci diriku sendiri, karena masih saja tak bisa berani
untuk membuang jauh-jauh perasaan bodoh itu..
kenangan itu, seharusnya tak berarti apa-apa untukku
kenangan itu, seharusnya membuatku tau kalau kau tak layak untukku
dan kenangan itu, seharusnya membangkitkanku untuk segera lepas darimu
karena.. yang tertinggal dari semua kenangan itu adalah LUKA
dan LUKA itu harus segera aku obati, biar pulih, dan kudapat berdiri lagi
Wednesday, January 13, 2010
APAKAH ???
Apakah mungkin DIA kan menjadi pasanganku sampai akhir nanti ???
Apakah Aku dapat mempercayai apa yang dIA janjikan padaku ???
Selama ini aku tak dapat mempercayai semua yang dIA katakan....
Aku menganggap dIA hanya seekor lintah licik yang menempel disemua tempat untuk mencari keuntungan dan kenikmatan sesaat saja...
Apa yang dIA katakan, semuanya tak sesuai dengan apa yang dIA lakukan...
Dengan mudahnya dIA membalikkan fakta yang ada
Dengan segala kata dan ucapan manis yang merayu
Membuat semua yang diinginkannya dengan mudah didapatkannya....
Apakah dIA yang harus aku percaya ???
Apakah dIA yang akan menjadi panutanku atau bahkan kaumku ???
Mengapa hanya kaumku yang slalu dIA kecewakan ???
Mengapa kaumku yang menjadi korban darinya ???
Mengapa kaumku yang harus merasakan kelukaan dari perbuataannya ???
Dan mengapa hanya kesabaran yang selalu kaumku persembahkan untuk dIA dan semua perlakuannya ???
Apakah memang harus begitu ???
Kaumku hanya sebagai mainanan yang kapan saja dapat dicampakkan jika dIA merasa bosan...
Kaumku pun hanya dijadikan sebagai pelampiasan nafsu nya yang kapan saja bisa dikhianati setelah dIA terpuaskan...
Dengan mudahnya dIA mengucapkan janji-janji manis nan indah, bagai sebuah dongeng yang menina bobo’ kan kaumku...
Dan dengan mudahnya pula dIA melupakan semuanya itu tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun...
Sungguh memuakkan...
Dan amat memuakkan...
Andai saja kaumku boleh dan mendapat kesempatan untuk melakukan seperti apa yang telah dIA lakukan terhadap kaumku...
Mungkin dIA kan merasakan betapa sakit dan pedihnya sebuah pengkhianatan itu...
Jika saja kaumku mendapat sebuah keadilan,
Mungkin tak kan ada lagi kaumku yang terluka
Tapi mengapa kaumku hanya mendapat hinaan dan celaan ???
Ketika kaumku mencoba membalas perbuatan nya,
Dan melakukan seperti apa yang pernah dilakukan nya...
Mengapa hanya kesalahan yang harus kaumku terima,
Dimana keadilan ini ???
Apakah kaumku hanya harus menunggu sebuah hukuman dari sang maha adil ???
Hukuman yang disebut-sebut sebagai KARMA...
Kapan hukuman itu akan datang ???
Dan sampai kapan kaumku harus menunggu untuk mendapatkan sebuah keadilan ???
Nah jadi...
Apkah seperti dIA
yang akan menjadi imam di muka bumi ini ???
Apakah seperti dIA yang dapat dipercayai ???
Apakah seperti dIA pantas mendapatkan cinta suci dari kaumku ???
Dan apakah seperti dIA pantas dihargai oleh kaumku atau dikasihi oleh kaumku ???
Aku jadi ragu bahkan benar-benar ragu...
Maka, salahkah aku mengatakan ini semua ???
Sebuah keraguan bahkan mungkin sebuah ketakutan unutk mudah disakiti DIA...
Apakah aku salah jika seketika ini juga aku membenci DIA...
Setelah aku melihat kenyataan yang ada...
Kenyataan yang menyakitkan sekaligus menakutkan
Dan terakhir aku ingin bertanya,
Apakah salah jika aku menyalahkan dIA...
Ya...DIA yang disebut sebagai PRIA atau kaum ADAM,
Yang dengan mulianya ditakdirkan sebagai pemimpin dunia....pelindung kaum HAWA...
Namun perjalanan kehidupan telah mencoreng kehormatan itu,kepercayaan itu dan semua pengharapan yang tulus itu...
Yah...mungkin memang kaumku harus menunggu kehadiran seorang ADAM yang dapat memberikan keadilan itu....
(bandung,Januari'10)
Apakah Aku dapat mempercayai apa yang dIA janjikan padaku ???
Selama ini aku tak dapat mempercayai semua yang dIA katakan....
Aku menganggap dIA hanya seekor lintah licik yang menempel disemua tempat untuk mencari keuntungan dan kenikmatan sesaat saja...
Apa yang dIA katakan, semuanya tak sesuai dengan apa yang dIA lakukan...
Dengan mudahnya dIA membalikkan fakta yang ada
Dengan segala kata dan ucapan manis yang merayu
Membuat semua yang diinginkannya dengan mudah didapatkannya....
Apakah dIA yang harus aku percaya ???
Apakah dIA yang akan menjadi panutanku atau bahkan kaumku ???
Mengapa hanya kaumku yang slalu dIA kecewakan ???
Mengapa kaumku yang menjadi korban darinya ???
Mengapa kaumku yang harus merasakan kelukaan dari perbuataannya ???
Dan mengapa hanya kesabaran yang selalu kaumku persembahkan untuk dIA dan semua perlakuannya ???
Apakah memang harus begitu ???
Kaumku hanya sebagai mainanan yang kapan saja dapat dicampakkan jika dIA merasa bosan...
Kaumku pun hanya dijadikan sebagai pelampiasan nafsu nya yang kapan saja bisa dikhianati setelah dIA terpuaskan...
Dengan mudahnya dIA mengucapkan janji-janji manis nan indah, bagai sebuah dongeng yang menina bobo’ kan kaumku...
Dan dengan mudahnya pula dIA melupakan semuanya itu tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun...
Sungguh memuakkan...
Dan amat memuakkan...
Andai saja kaumku boleh dan mendapat kesempatan untuk melakukan seperti apa yang telah dIA lakukan terhadap kaumku...
Mungkin dIA kan merasakan betapa sakit dan pedihnya sebuah pengkhianatan itu...
Jika saja kaumku mendapat sebuah keadilan,
Mungkin tak kan ada lagi kaumku yang terluka
Tapi mengapa kaumku hanya mendapat hinaan dan celaan ???
Ketika kaumku mencoba membalas perbuatan nya,
Dan melakukan seperti apa yang pernah dilakukan nya...
Mengapa hanya kesalahan yang harus kaumku terima,
Dimana keadilan ini ???
Apakah kaumku hanya harus menunggu sebuah hukuman dari sang maha adil ???
Hukuman yang disebut-sebut sebagai KARMA...
Kapan hukuman itu akan datang ???
Dan sampai kapan kaumku harus menunggu untuk mendapatkan sebuah keadilan ???
Nah jadi...
Apkah seperti dIA
yang akan menjadi imam di muka bumi ini ???
Apakah seperti dIA yang dapat dipercayai ???
Apakah seperti dIA pantas mendapatkan cinta suci dari kaumku ???
Dan apakah seperti dIA pantas dihargai oleh kaumku atau dikasihi oleh kaumku ???
Aku jadi ragu bahkan benar-benar ragu...
Maka, salahkah aku mengatakan ini semua ???
Sebuah keraguan bahkan mungkin sebuah ketakutan unutk mudah disakiti DIA...
Apakah aku salah jika seketika ini juga aku membenci DIA...
Setelah aku melihat kenyataan yang ada...
Kenyataan yang menyakitkan sekaligus menakutkan
Dan terakhir aku ingin bertanya,
Apakah salah jika aku menyalahkan dIA...
Ya...DIA yang disebut sebagai PRIA atau kaum ADAM,
Yang dengan mulianya ditakdirkan sebagai pemimpin dunia....pelindung kaum HAWA...
Namun perjalanan kehidupan telah mencoreng kehormatan itu,kepercayaan itu dan semua pengharapan yang tulus itu...
Yah...mungkin memang kaumku harus menunggu kehadiran seorang ADAM yang dapat memberikan keadilan itu....
(bandung,Januari'10)
Subscribe to:
Posts (Atom)

